Selasa, 28 Oktober 2014

Ejaan bhs indonesia



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Ejaan Yang Disempurnakan
Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang  telah di standarisasi. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek, yakni :
1.      Aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad
2.      Aspek morfologi yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfemis
3.      Aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran tanda baca.
KBBI (1993:250) ejaan ialah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Dengan demikian,secara sederhana dapat dikatakan bahwa ejaan adalah seperangkat kaidah tulis-menulis yang meliputi kaidah penulisan huruf, kata, dan tanda baca.
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf kapital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD di sini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail. Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar

B.     Pelafalan dan Huruf
1.      Pengertian pelafalan
Lafal adalah cara seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa. Terkadang dalam berkomunikasi sering terjadi kesalahan karena belum memahami lafal, tekanan intonasi, dan jeda yang lazim/ baku dan yang tidak lazim. Untuk itu anda perlu memahami lafal, tekanan, intonasi dan jeda.
Dalam komunikasi lisan pelafalan huruf harus jelas dan tepat, melafalkan huruf harus sesuai dengan huruf tersebut, misalnya huruf /V/ dilafalkan /pe/ akan timbul salah pengertian.

lafal kata dengan artikulasi yang tepat dapat dilihat dari segi:
a.       Tekanan sudah mendekati standar, tidak ada pengaruh bahasa asing dan bahasa daerah.
b.      Ucapan mudah dipahami.
c.       Sekali-sekali timbul kesukaran memahami.
d.      Benar-benar tidak dapat dipahami.

2.      Huruf
a.       Pengertian huruf
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, huruf didefinisikan sebagai tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjad yang melambangkan bunyi bahasa. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat kita katakan kalau huruf adalah lambang dari bunyi. Misalnya bunyi be lambangnya atau hurufnya adalah b, bunyi el lambangnya adalah l, dan seterusnya.

b.      Pelafalan huruf
Abjad bahasa Indonesia terdiri atas 26 huruf. Dalam abjad itu terdapat 21 konsonan dan 5 huruf vokal.
Huruf
Dibaca
Huruf
Dibaca
A a
A
N n
en
B b
Be
O o
o
C c
Ce
P p
pe
D d
De
Q q
ki
E e
E
R r
er
F f
Ed
S s
es
G g
ge
T t
te
H h
ha
U u
u
I i
I
V v
ve
J j
Je
W w
we
K k
Ka
X x
eks
L l
El
Y y
ye
M m
em
Z z
Jet
3.      Fonem dan Diftong
a.       Fonem
Selain 26 huruf tadi, bahasa indonesia juga menggunakan gabungan konsonan.
Contoh:
kh seperti dalam khusus, akhir
ng seperti dalam ngilu, bangun
ny seperti dalam nyata, nyonya
sy seperti dalam syair, asyik

Setiap gabungan konsonan itu menghasilkan satu fonem atau satu bunyi. Karena itu kh, ng, ny, sy masing-masing dihtung satu konsonan.
Contoh :
akhir       = v k v k
anyam    = v k v k
ngilu       = k v k v
syair       = k v v k
jadi, walaupun jumlah huruf diatas ada lima, tetapi untuk jumlah vokal dan konsonan untuk setip kata ada lima.

b.      Diftong
Diftong adalah gabungan dua huruf vokal.
Contoh :
Diftong /ai/ dalam kata :
     bantai   dilafalkan  /bantay/
     ngarai   dilafalkan  /ngaray/
     pandai  dilafalkan  /panday/
     santai   dilafalkan  /santay/
Diftong /au/ dalam kata :
     Kacau   dilaflkan   /kacaw/
     Kerbau  dilafalkan /kerbaw/
     Limau   dilafalkan /limaw/
Diftong /oi/ dalam kata :
     Amboi dilafalkan   /amboy/
     Boikot  dilafalkan   /boykot/
Jika vokal beruntun /ai/, /au/ terdapat dalam kata yang pelafalan sama persis dengan huruf aslinya, vokal tersebut bukan diftong.
Contoh:
Kata
Dilafalkan
Bukan dilafalkan
Mulai
/mulai/
/mulay/
Namai
/namai/
/namay/
Bau
/bau/
/baw/
Mau
/mau/
/maw/

Dengan berpedoman pada EYD, dalam membaca singkatan kata yang dibaca huruf demi huruf, pelafalannya pun harus sesuai dengan huruf bahasa Indonesia.
Contoh:
Singkatan
Dibaca
Bukan dibaca
AC
a-ce
a-se
BBC
be-be-ce
bi-bi-ci
CIA
ce-i-a
si-ai-ei
FBI
ef-be-i
ef-bi-ai
IGGI
i-ge-ge-i
i-ji-ji-ai
IMF
i-em-ef
ai-em-ef
MTQ
em-te-ki
em-tek-kyu
RCTI
er-ce-te-i
er-se-te-i
TV
te-ve
ti-fi


a.       Vokal /a/
Vokal /a/ dilafalkan agak panjang apabila berada pada suku kata terbuka.   Misalnya: su-ka, ma-ta, den-da, tang-ga.
Pelafalan vokal /a/ lain ada yang agak singkat apabila berada pada suku tertutup. Misalnya ; de-pan, be-sar, ke-lam.


b.      Vokal /u/
Vokal /u/ mempunyai dua alofon, yaitu [u] pada suku terbuka dan [u] pada suku tertutup.
Suku terbuka
u-pah
tu-kang
ban-tu

Suku tertutup
bung-su
rum-put

c.       Konsonan /b/
Konsonan /b/ dilafalkan jelas apabila berada pada posisi awal suku kata. Misalnya : ba-las, bi-na, be-nar, bo-la.

Konsonan /b/ yang lain ada yang dilafalkan seperti bunyi /p/ apabila berada posisi akhir suku kata. Misalnya : sab-tu dilafalkan sap-tu.

Dalam tuturan ada sejumlah fonem yang dilafalkan tidak sesuai dengan lafal yang tepat sehingga lafal tersebut menjadi tidak baku.
Contoh :
Tabel A:

Pelafalan baku
Pelafalan tidak baku
aktif
aktip
fitnah
pitnah
fungsi
Pungsi
izin
Ijin
ijazah
ijasah
zaman
jaman
vitamin
pitamin
           
Tabel B:

Kata
Pelafalan yang salah
Ket.
memerah (=memeras)
[memerah] (=menjadi merah)
salah arti
mental (=jiwa)
[mental] (=terpelanting)
salah arti
Syarat
[sarat]
salah arti
Syah
[sah]
salah arti
Massa
[masa]
salah arti

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pelafalan adalah hal yang sangat penting dalam pengucapan bunyi bahasa.
Dalam pelafalan baku hendaknya melafalkan kata sesuai dengan kaidah EYD. Jika terjadi pelafalan yang salah akan terjadi perbedaan makna.
Contoh :
Dia terkena bisa ular.
Kata bisa pada kalimat tadi berarti racun, kata bisa itu bisa tertukar maknanya menjadi dapat melakukan.


C.    Pedoman Penulisan Huruf Kapital
Berikut adalah pedoman penulisan tanda baca sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. 
a.       Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
Dia membaca buku.   
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
                        Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.    


b.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
            Islam
Allah
Quran
Alkitab
Weda
Yang Mahakuasa         
Yang Maha Pengasih  
Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya. 

c.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.    
Misalnya:
Mahaputra Yamin      
Sultan Hasanuddin     
Haji Agus Salim         
Imam Syafii    
Nabi Ibrahim  

d.      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.          
Pada tahun ini dia pergi naik haji.      
Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.


e.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.
Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik  
Perdana Menteri Nehru          
Profesor Supomo       
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara           
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian     

f.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.
Misalnya:
Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.        
Sidang itu dipimpin Presiden.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.   

g.      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.
Misalnya:
Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?       
Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.      
Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.   

h.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.
Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere
            Catatan:
a.       Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).    
Misalnya:
J.J de Hollander
J.P. van Bruggen
H. van der Giessen     
Otto von Bismarck
Vasco da Gama
b.      Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.
                  Misalnya:
Abdul Rahman bin Zaini
Ibrahim bin Adham
Siti Fatimah binti Salim

i.        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
pascal second 
J/K atau JK-1   
N
joule per Kelvin          
Newton
j.        Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
mesin diesel
10 volt
5 ampere

k.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Eskimo
suku Sunda
bahasa Indonesia

l.        Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan

m.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.
Misalnya:
tahun Hijriah
bulan Agustus
hari Jumat
hari Lebaran
tarikh Masehi
bulan Maulid
hari Galungan

n.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah.
Misalnya:
Perang Candu
Perang Dunia I
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia



o.      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perangdunia.

p.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama diri geografi.
Misalnya:
Banyuwangi
Cirebon
Eropa
Asia Tenggara
Amerika Serikat
Jawa Barat

q.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.
Misalnya:
Bukit Barisan
Dataran Tinggi Dieng
Jalan Diponegoro
Ngarai Sianok
Selat Lombok
Sungai Musi
Teluk Benggala
Danau Toba
Gunung Semeru
Jazirah Arab
Lembah Baliem
Pegunungan Jayawijaya
Tanjung Harapan
r.        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.
Misalnya:
ukiran Jepara
tari Melayu
asinan Bogor
pempek Palembang
sarung Mandar
sate Mak Ajad

s.       Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.
Misalnya:
berlayar ke teluk
menyeberangi selat
mandi di sungai
berenang di danau

t.        Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis.
Misalnya:
nangka belanda
kunci inggris
harimau sumatera
petai cina
pisang ambon

u.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.
Misalnya:
Republik Indonesia
Departemen Keuangan
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

v.      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.
Misalnya:
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat
menjadi sebuah republik
menurut undang-undang yang berlaku

Catatan:
1.      Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
Pemberian gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.
Tahun ini Departemen sedang menelaah masalah itu.
Surat itu telah ditandatangani oleh Direktur.

w.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan

x.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".

y.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.
Misalnya:
Dr.
Doctor
S.E.
sarjana ekonomi
S.H.
sarjana hokum
S.S.
sarjana sastra
S.Kp.
sarjana keperawatan
M.A.
master of arts
M.Hum.
magister humaniora
Prof.
Professor
K.H.
kiai haji
Tn.
Tuan

Ny.
Nyonya
Sdr.
saudara






Catatan:
Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.

z.       Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.

aa.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
Surat Anda telah kami terima dengan baik.

bb.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu. (Lihat contoh pada EYD pasal I B, I C, I E, dan II F15).

D.    Suku Kata
Suku kata adalah penggalan-penggalan bunyi dari kata dalam satu ketukan atau satu hembusan nafas. Kata rumah akan diucapkan ru dan mah, kata berenang akan diucapkan be, re, dan nang jika kedua kata itu diucapkan dengan cara sepenggal- sepenggal.
1.      Jumlah suku kata pada bahasa Indonesia
                        Setiap kata dalam bahasa Indonesi memiliki suku kata yg berbeda-beda.
a.       Terdiri dari satu suku kata, contoh: cat, bor, bom, lap, dan lain-lain.
b.      Terdiri dari dua suku kata, contoh: pa-gi, ru-mah, a-ku, ka-mu, dan lainya.
c.       Terdiri dari tiga suku kata, contoh: me-re-ka, ke-ma-ri, sa-ra-pan, dan lainnya.
d.      Terdiri dari empat suku kata, contoh: tu-na-wis-ma, da-sa-war-sa, dan lainnya.
e.       Terdiri dari lima suku kata, contoh: pra-mu-ni-a-ga, dar-ma-wi-sa-ta.

2.      Pola-pola suku kata dalam bahasa Indonesia
a.       Pola KV (konsonan vokal), contoh: sa-ku, se-la-ma, se-pa-tu, dan lainnya.
b.      Pola VK, contoh: an-da, am-pun, dan lain-lain.
c.       Pola KVK, contoh: lak-sa-na, pe-rak, dan lainny.
d.      Pola KKV, contoh: pra-mu-ga-ri.
e.       Pola KKVK, contoh: ben-trok.
f.       Pola KKKVK, contoh: struk-tur.
Jika suku kata berahir dengan vokal, maka disebut suku buka. Dan jika berahir dengan konsonan disebut suku tutup.
3.      Aturan pemenggalan atau penyukuan kata
a.       Jika dua vokal berada di tengah kata, maka pemenggalan diantara dua vokal, contoh:  main dipenggal ma-in.
b.      Jika konsonan diapit dua pokal seperti kata anak, barang, maka pemenggalan sebelum hurup konsonan, contaoh: a-nak, ba-rang.
c.       Jika dua konsonan berurutan di tengah kata, pemenggalan dilakukan diantara dua  konsonan, contoh: sanjung menjadi san-jung.
d.      Jika ditengah kata terdapat tiga konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan   diantara konsonan pertama dan kedua, contoh: bentrok menjadi ben-trok.


E.     Kata
Kata atau ayat adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya kata terdiri dari satu akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Gabungan kata-kata dapat membentuk frasa, klausa, atau kalimat.
Kata "kata" dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Ngapak kathā. Dalam bahasa Sanskerta, kathā sebenarnya bermakna "konversasi", "bahasa", "cerita" atau "dongeng". Dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantis menjadi "kata".
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1997) memberikan beberapa definisi mengenai kata:
1.     Elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa
2.     konversasi, bahasa
3.     Morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas
4.     Unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem (contoh kata) atau beberapa morfem gabungan (contoh perkataan).
Definisi pertama  KBBI  bisa diartikan sebagai leksem yang bisa menjadi lema atau entri sebuah kamus. Lalu definisi kedua mirip dengan salah satu arti sesungguhnya kathā dalam bahasa Sanskerta. Kemudian definisi ketiga dan keempat bisa diartikan sebagai sebuah morfem atau gabungan morfem.
1.      Jenis Kata
Berdasarkan bentuknya, kata bisa digolongkan menjadi empat: kata dasar, kata turunan, kata ulang, dan kata majemuk. Kata dasar adalah kata yang merupakan dasar pembentukan kata turunan atau kata berimbuhan. Perubahan pada kata turunan disebabkan karena adanya afiks atau imbuhan baik di awal (prefiks atau awalan), tengah (infiks atau sisipan), maupun akhir (sufiks atau akhiran) kata. Kata ulang adalah kata dasar atau bentuk dasar yang mengalami perulangan baik seluruh maupun sebagian sedangkan kata majemuk adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda membentuk suatu arti baru.
Dalam tata bahasa baku bahasa Indonesia, kelas kata terbagi menjadi tujuh kategori, yaitu:
a.       Nomina (kata benda); nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan, misalnya bukukuda.
b.      Verba (kata kerja); kata yang menyatakan suatu tindakan atau pengertian dinamis, misalnya bacalari.
1.       Verba transitif (membunuh),
2.       Verba kerja intransitif (meninggal),
3.       Pelengkap (berumah)
c.       Adjektiva (kata sifat); kata yang menjelaskan kata benda, misalnya kerascepat.
d.      Adverbia (kata keterangan); kata yang memberikan keterangan pada kata yang bukan kata benda, misalnya sekarangagak.
e.       Pronomina (kata ganti); kata pengganti kata benda, misalnya iaitu.
1.      Orang pertama (kami),
2.      Orang kedua (engkau),
3.      Orang ketiga (mereka),
4.      Kata ganti kepunyaan (-nya),
5.      Kata ganti penunjuk (ini, itu)
f.       Numeralia (kata bilangan); kata yang menyatakan jumlah benda atau hal atau menunjukkan urutannya dalam suatu deretan, misalnya satukedua.
1.      Angka kardinal (duabelas),
2.       Angka ordinal (keduabelas)
2.      Penentuan Batas Kata
Dalam ilmu linguistik ada minimal lima cara dalam menentukan batas-batas kata:
A.    Pada jeda
Seorang pembicara disuruh untuk mengulang kalimat yang diberikan secara pelan, diperbolehkan untuk beristirahat dan mengambil jeda. Sang pembicara maka akan cenderung memasukkan jeda pada batas-batas kata. Namun metoda ini tidaklah sempurna: sang pembicara bisa dengan mudah memilah-milah kata-kata yang terdiri dari banyak suku kata.
B.     Keutuhan
Seorang pengguna disuruh untuk mengucapkan sebuah kalimat secara keras dan lalu disuruh untuk mengucapkannya lagi dan ditambah beberapa kata.
C.     Bentuk bebas minimal
Konsep ini pertama kali diusulkan oleh Leonard Bloomfield. Kata-kata adalah leksem, jadi satuan terkecil yang bisa berdiri sendiri.

D.    Batas fonetis
Beberapa bahasa mempunyai aturan pelafazan khusus yang membuatnya mudah ditinjau di mana batas kata sejatinya. Misalnya, di bahasa yang secara teratur menjatuhkan tekanan pada suku-kata terakhir, maka batas kata mungkin jatuh setelah masing-masing suku-kata yang diberi tekanan. Contoh lain bisa didengarkan pada bahasa yang mempunyai harmoni vokal (seperti bahasa Turki): vokal dalam sebagian kata memiliki "kualitas" sama, oleh sebab itu batas kata mungkin terjadi setiap kali kualitas huruf hidup berganti. Tetapi, tidak semua bahasa mempunyai peraturan fonetis seperti itu yang mudah, kalaupun iya, pada bahasa ini ada pula perkecualiannya.
E.     Satuan semantis
Seperti pada banyak bentuk bebas yang minimal yang disebut di atas ini, metode ini memilah-milah kalimat ke dalam kesatuan-kesatuan semantiknya yang paling kecil. Tetapi, bahasa sering memuat kata yang mempunyai nilai semantik kecil (dan sering memainkan peran yang lebih gramatikal), atau kesatuan-kesatuan semantik yang adalah kata majemuk.
Dalam prakteknya, ahli bahasa mempergunakan campuran semua metode ini untuk menentukan batas kata dalam kalimat. Namun penggunaan metode ini, definisi persis kata sering masih sangat sukar ditangkap.


F.     Partikel Kata
Partikel atau kata tugas adalah kelas kata yang hanya memiliki arti gramatikal dan tidak mempunyai arti leksikal. Arti suatu kata tugas ditentukan oleh kaitannya dengan kata lain dalam suatu frasa atau kalimat dan tidak bisa digunakan secara lepas atau berdiri sendiri.
Kata tugas dikelompokkan menjadi lima bagian, yaitu:
1.      Preposisi
Preposisi atau kata depan adalah kata yang secara sintaksis terdapat di depan nomina, adjektiva, atau adverbia dan secara semantis menandai berbagai

kata lain dalam suatu frasa atau kalimat dan tidak bisa digunakan secara lepas atau berdiri sendiri.
Kata tugas dikelompokkan menjadi lima bagian, yaitu:
2.      Preposisi
Preposisi atau kata depan adalah kata yang secara sintaksis terdapat di depan nomina, adjektiva, atau adverbia dan secara semantis menandai berbagai hubungan makna antara konstituen di depan dan di belakang preposisi tersebut misalnya daridengandike.
Kata-kata yang digunakan di depan kata benda untuk merangkaikan kata benda itu dengan bagian kalimat lain disebut kata depan. Umpama kata-kata di, dengan dan oleh pada kalimat berikut:
1.      Kakek tinggal di desa.
2.      Nenek menulis dengan sepidol.
3.      Jembatan ini dibangun oleh pemerintah.
Dilihat dari fungsinya, kata depan menyatakan hal-hal berikut:
a.    Tempat berada, yaitu; di, pada, dalam, atas dan antara.
b.    Arah asal, yaitu; dari.
c.    Arah tujuan, yaitu; ke, kepada, akan, dan terhadap.
d.   Pelaku, yaitu; oleh.
e.    Alat, yaitu; dengan dan berkat.
f.     Perbandingan, yaitu; daripada.
g.    Hal atau masalah, yaitu; tentang dan mengenai.
h.    Akibat, yaitu; hingga dan sampai.
i.      Tujuan, yaitu; untuk, buat, guna, dan bagi.
Jenis-jenis preposisi sebagai berikut :
1.        Kata depan dalam.
Kata depan dalam digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1.   Untuk menyatakan tempat berada digunakan di depan kata benda sebagai variasi dari kata depan di dalam.
Contoh;
·         Jangan bermain dalam kelas,
·         Buku itu disimpan dalam lemari,
·         Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.
2.      Untuk menyatakan "berada dalamsuatu situasi atau peristiwa" digunakan di depan kata benda. Contoh;
·         Kita harus hati-hati dalam pergaulan di kota besar.
·         Dalam perjalanan ke Eropa, kami singgah di Kairo.
·         Dalam bentrokan itu beberapa orang menjadi korban.
3.      Untuk menyatakan "jangka waktu", digunakan di muka kata yang menyatakan lama waktu. Contoh;
·         Pekerjaan itu akan selesai dalam beberapa hari.
·         Dalam waktu 2 jam perampok itu telah dapat dibekuk.
·         Kredit vespa diangsur dalam waktu 2 tahun.

2.        Kata depan atas. 
Kata depan atas dapat digunakan dalam aturan seperti berikut:
1.      Untuk menyatakan "tempat" digunakan di depan kata benda sebagai varian dari kata di atas. Contoh;
·         Kami berdiri atas keadilan dan kebenaran.
·         Beban yang dipikulkan atas pundak rakyat sudah terlalu berat.
·         Berbagai masalah telah menimpa atas diri kami.
2.      Untuk menghubungkan predikat intransitif dengan pelengkapnya. Contoh;
·         Mereka berhak atas barang-barang itu.
·         Kami menyesal atas kejadian itu.
·         Saya ikut berduka cita atas musibah itu.
Catatan: Kata depan atas digunakan juga dalam beberapa ungkapan yang sudah tetap, seperti:
·         atas nama
·         atas kehendak
·         atas anjuran
·         atas permintaan, dan
3.        Kata depan antara.
Kata depan antara digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1.      Untuk menyatakan "jarak", digunakan di depan dua buah kata benda yang menyatakan tempat yang dirangkaikan dengan kata depan dan. Contoh;
·         Banjir melanda daerah antara Bekasi dan Karawang.
·         Jarak antara Jakarta dan Bogor hanya 60 km.
·         Bedanya antara langit dan bumi.
2.      Untuk menyatakan "adanya dua pihak", digunakan di muka dua buah kata benda yang menyatakan orang atau yang diorangkan, yang dirangkaikan dengan kata depan dengan. Contoh;
·         Perang antara Iran dan Irak semakin hebat.
·         Perundingan antara Indonesia dan Malaysia sedang berlangsung.
·         Perdamaian antara Mesir dan Israel tidak bisa kekal.
3.      Untuk menyatakan "suatu tempat, suatu saat, suatu keadaan atau hal", digunakan di muka dua buah kata benda yang menyatakan tempat atau waktu (atau di muka dua buah kata lain yang menyatakan keadaan) yang dirangkaikan dengan kata depan dengan. Contoh;
·         Tabrakan itu terjadi di jalan raya antara Yogyakarta dan Solo.
·         Pencarian itu terjadi antara pukul tiga dan pukul empat pagi.
·         Antara tidur dan jaga saya mendengar suara ketukan pintu.

4.      Kata depan kepada
Kata depan kepada digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1.      Untuk menyatakan "tempat yang dituju", digunakan di muka objek dalam kalimat yang predikatnya mengandung pengertian "tertuju terhadap sesuatu". Contoh:
·         Personalia itu telah dilaporkan kepada Gubernur.
·         Harus melapor dulu kepada bagian keamanan.
·         Kami akan minta bantuan kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
Catatan: Kalau kata depan ke menyatakan "arah tempat yang sebenarnya" maka kata depan kepada menyatakan "arah tempat yang tidak sebenarnya". Bandingkan contoh berikut;
·         Kembali ke desa.
·         Kembali kepada UUD 1945.
2.      Untuk menyatakan "arah yang dituju", dapat digunakan sebagai varian kata depan akan. Contoh;
·         Ia takut sekali kepada hantu.
·         Kami selalu ingat kepada ibunya.
·         Dia sudah lupa kepada kewajibannya.

5.      Kata Depan akan
Kata depan akan dengan aturan sebagai berikut.
1.      Untuk menunjuk objek, digunakan di dalam kalimat yang predikatnya menunjukkan sikap batin. Contoh:
·         Saya masih ingat akan peristiwa bersejarah itu.
·         Dia baru sadar akan keluarganya.
·         Kami sudah bosan akan lagu-lagu itu.
2.      Untuk menguatkan kata yang berada di belakangnya, dapat digunakan sebagai tumpuan kalimat. Dalam hal ini dapat diganti dengan kata tentang, mengenai, atau adapun. Contoh:
·         Akan budi baikmu itu, tentu tak bisa kami lupakan.
·         Akan hutang-hutangmu itu tidak usahlah terlalu kau pikirkan.
·         Akan sawah dan ladang di sana, biarlah diurus oleh paman Hasan.
Catatan: Sebagai penunjuk "maksud" atau "tujuan", kata depan akan sebaiknya tidak digunakan. Kedudukannya lebih baik diganti dengan kata untuk.
Contoh:
·         Daunnya baik akan obat sakit perut. (sebaiknya diganti dengan: Daunnya baik untuk obat sakit perut)
·         Latihan diadakan akan mempertinggi kemampuan. (sebaiknya diganti dengan: Latuhan diadakan untuk mempertinggi kemampuan.
·         Disediakan uang akan biaya rapat itu. (sebaiknya diganti dengan: Disediakan uang untuk rapat itu.

6.    Kata Depan terhadap
Kata depan terhadap digunakan dengan aturan sebagai berikut:
1.      Untuk menyatakan "sasaran perbuatan", digunakan di muka kata benda yang menyatakan orang atau yang diorangkan. Kedudukannya dapat diganti dengan kata depan kepada. Contoh;
·         Saya tidak takut terhadap siapa saja.
·         Terhadap saya dia tidak berani berbuat curang.
·         Terhadap ibunya dia berani berkata begitu, apalagi kepada kita.
2.      Untuk menyatak "perihal", digunakan dimuka kata benda. Kedudukannya dapan diganti dengan kata depan kepada. Contoh;
·         Kami tidak ragu-ragu lagi terhadap kejujuranmu.
·         Kami akan menentukan sikap terhadap perbuatan itu.
·         Peristiwa itu merupakan batu ujian terhadap keteguhan hatinya.

7.    Kata Depan oleh
 Kata depan oleh digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1.      Untuk menyatakan "pelaku perbuatan", digunakan di muka objek pelaku dalam kalimat pasif. Contoh:
·         Pabrik pupuk itu akan diresmikan oleh Presiden SBY.
·         Buku pelajaran matematika itu diterbitkan oleh Balai Pustaka.
·         Jembatan ini dibangun oleh pemerintah pusat.
2.      Untuk menyatakan "sebab", digunakan dlam kalimat yang predikatnya berupa kata sifat atau kata yang menyatakan keadaan. Contoh:
·         Pertahanan mereka hancur oleh serangan Israel.
·         Bajunya basah oleh keringat.
·         Tanaman kami rusak oleh hama wereng.


8.      Kata Depan dengan
Berikut ini aturan kata depan dengan.
1.      Untuk menyatakan "alat", digunakan di muka kata benda yang menyatakan alat. Contoh;
·         Adik menulis dengan spidol.
·         Hasil ujian seleksi diperiksa dengan komputer.
·         Penjahat itu menodong saya dengan pistol.
2.      Untuk menyatakan "beserta", digunakan di muka kata benda yang menyatakan orang. Contoh:
·         Dia datang dengan ibunya.
·         Kapal itu tenggelam dengan segala isinya.
·         Adik pergi dengan kawan-kawannya.
3.      Untuk menyatakan "cara atau sifat perbuatan", digunakan di muka kata sifat atau kata keterangan. Contoh:
·         Kami diperiksa dengan teliti.
·         Mereka bermain dengan gembira.
·         Saudara akan kami terima dengan senang hati.
Catatan:
Kata depan dengan digunakan juga dalam beberapa ungkapan tetap yang menyatakan sumpah atau alat, seperti berikut; Dengan nama Alloh, Dengan rahmat Tuhan, Dengan karunia Yang Maha Esa, Dengan titah baginda, Dengan restu presiden

9.           Kata Depan berkat
Kata depan berkat digunakan di depan kata benda atau frase benda untuk menyatakan "sebab yang memberi pengaruh untuk terjadinya sesuatu". Contoh:
·         Kemerdekaan ini dapat kita raih berkat pengorbanan para pejuang.
·         Berkat doa saudara-saudara, kami berhasil membawa kembali gelar juara ini.
·         Berkat bantuan Anda, saya terbebas dari kesulitan ini.

10.       Kata Depan tentang
Kata depan tentang digunakan di depan kata benda atau frase benda untuk menyatakan "perihal" atau "masalah". Contoh:
·         Mereka berdebat tentang peranan pemuda dalam pembangunan.
·         Tentang perundingan itu sendiri tidak banyak dibicarakan lagi.
·         Menlu Mochtar memberi keterangan penjang lebar tentang peristiwa yang dialami Tim Verifikasi RI di Irian Jaya.

11.       Kata Depan sampai
Kata depan ini digunakan untuk menyatakan "batas tempat atau batas waktu" digunakan di muka kata benda yang menyatakan tempat atau menyatakan waktu. Contoh:
·         Kami berjalan kaki sampai desa Jatisari.
·         Bacalah sampai halaman 43!
·         Mereka belajar sampai larut malam.

12.       Kata Depan guna
Kata depan guna untuk menyatakan adanya pertalian perihal" sebagai varian kata depan untuk, digunakan di muka kata benda berimbuhan gabung ke-an. Contoh:
·         Guna kebahagiaan anak-anak itu, biarlah kita mengalah.
·         Guna kesehatan kita bersama, janganlah merokok di ruangan ini.
·         Guna kepentingan umum kami rela berkorban.
Tetapi disini penggunaannya tidak dianjurkan. Lebih baik gunakan kata depan gabung untuk.

13.       Kata Depan demi
1.      Untuk menyatakan "tekad", digunakan di depan kata benda berimbuhan gabung ke-an. Contoh:
·         Kami akan bekerja keras demi kesejahteraan keluarga.
·         Demi kepentingan pembangunan kami rela berkorban.
·         Saya berjuang demi kebenaran dan keadilan.
2.      Untuk menyatakan "berurutannya yang satu dari yang lain" digunakan di antara dua buah kata bilangan yang sama. Contoh:
·         Diangkatnya batu itu satu demi satu.
·         Seorang demi seorang, secara diam-diam meninggalkan ruang sidang itu.
·         Kertas itu dibakarnya selembar demi selembar.
3.      Untuk menyatakan sumpah, digunakan di depan nama Tuhan, Dewa, dan lain-lain yang dianggap berkuasa. Contoh:
·         Demi Alloh saya tidak pernah mengambil bukumu.
·         Demi Tuhan saya tidak tahu menahu dengan urusan itu.
·         Demi yang menguasai alam dengan segenap isinya saya bersumpah akan tetap tinggal disini.

14.       Kata Depan untuk
Kata depan untuk digunakan dengan aturan sebagai berikut:
·         Untuk menyatakan "tujuan" atau "sasaran perbuatan", digunakan dimuka kata benda orang yang diorangkan. Contoh; Beliau membawa oleh-oleh untuk kami; Pupuk dikirim untuk para petani; Ayah membeli sepatu untuk ibu.
15.       Kata Depan bagi
Kata depan ini dapat digunakan untuk menyatakan "adanya pertalian perihal", sebagai varian kata depan untuk. Contoh;
·         Bagi kepentingan pembangunan kami rela berkorban.
·         Bagi saya jadi pergi atau tidak, tidak menjadi soal.
·         Bagi karangan terbaik disediakan hadiah menarik.

16.       Kata Depan menurut
Kata depan ini dengan fungsi untuk menyatakan "sesuai dengan yang dikatakan", digunakan di depan kata benda atau frase benda yang menyatakan orang. Contoh:
·         Menurut undang-undang yang berlaku, saudara telah berbuat salah.
·         Menurut ketua organisasi itu siapa saja boleh mendaftar jadi anggota.
·         Menurut ibu, saya sebaiknya menjadi pelukis saja.

Bentuk-bentuk preposisi sebagai berikut :
1.     Preposisi tunggal terdiri dari satu kata.
1.      Preposisi yang berupa kata dasar terdiri dari satu morfem. Contoh: akanantarabagi.
2.      Preposisi yang berupa kata berafiks dibentuk dengan menambahkan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar yang bisa berupa verba, adjektiva, atau nomina.
1.      Preposisi yang berupa kata berprefiks, contoh: bersamamenurutseantero.
2.      Preposisi yang berupa kata bersufiks, contoh: bagaikan.
3.      Preposisi yang berupa kata berprefiks dan bersufiks, contoh: melaluimengenai.
2.     Preposisi gabungan atau majemuk terdiri atas dua preposisi yang berdampingan atau berkolerasi.
1.      Preposisi yang berdampingan terdiri dari dua preposisi yang letaknya berurutan. Contoh: daripadakepadasampai ke.
2.      Preposisi yang berkorelasi terdiri dari dua unsur yang dipakai berpasangan, tetapi terpisah oleh kata atau frasa lain. Contoh: antara ... dengandari ... ke.
3.     Preposisi dengan nomina lokatif bergabung dengan dua nomina yang nomina pertamanya mempunyai ciri lokatif atau menunjukkan lokasi. Contoh di atas mejake dalam rumahdari sekitar kampus.

3.       Konjungsi
Konjungsi, konjungtor, atau kata sambung adalah kata atau ungkapan yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, serta kalimat dengan kalimat. Contoh: dan, atau, serta.
Preposisi dan konjungsi adalah dua kelas yang memiliki anggota yang dapat beririsan. Contoh irisannya adalah karena, sesudah, sejak, sebelum.
Kata penghubung adalah kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa atau kalimat dengan kalimat. Umpamanya kata dan, karena, dan ketika. Dilihat dari fungsinya, berikut ini dua macam kata penghubung:
Kata penghubung yang kedudukannya sederajat atau setara terdiri dari beberapa hal berikut:
·         Menggabungkan biasa; dan, dengan, serta.
·         Menggabungkan memilih: atau
·         Menggabungkan mempertentangkan: tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya
·         Menggabungkan membetulkan: melainkan, hanya
·         Menggabungkan menegaskan: bahkan, malah (malahan), lagipula, apalagi, jangankan
·         Menggabungkan membatasi: kecuali, hanya
·         Menggabungkan mengurutkan: lalu, kemudian, selanjutnya
·         Menggabungkan menyamakan: yaitu, yakni, bahwa, adalah, ialah
·         Menggabungkan menyimpulkan: jadi, karena itu, oleh sebab itu
Kata penghubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat dibedakan sebagai berikut:
·         Menyatakan sebab: sebab dan karena
·         Menyatakan syarat: kalau, jikalau, jika, bila, apalagi, dan asal
·         Menyatakan tujuan: agar dan supaya
·         Menyatakan waktu: ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala.
·         Menyatakan akibat: sampai, hingga, dan sehingga
·         Menyatakan sasaran: untuk dan guna
·         Menyatakan perbandingan: seperti, sebagai, dan laksana
·         Menyatakan tempat: tempat





Jenis-jenis  konjungsi yaitu :
1.      Kata Penghubung  dan
Kata penghubung ini untuk menyatakan "gabungan biasa" digunakan pada bagian berikut:
Diantara dua buah kata benda. Contoh:
·         Ibu dan ayah pergi ke Bogor
·         Ayah membeli rokok dan korek api
Di antara dua buah kata kerja. Contoh:
·         Mereka makan dan minum di kelas
·         Ibu mencuci dan menyetrika pakaian kami
Diantara dua buah kata sifat yang tidak bertentangan. Contoh;
·         Anak itu rajin dan pandai
·         Pohon durian itu besar dan tinggi
Di antara dua buah klausa (bagian kalimat) dalam sebuah kalimat majemuk/luas. Contoh;
·         Saya mau piano dan adik menggesek biola
·         Ali belajar bahasa Inggris dan kakaknya belajar bahasa Arab
Jikalau klausa-klausa yang digabungkan itu lebih tinggi dari 2 buah, maka kata p    enghubung dan hanya digunakn di antara dua buah klausa yang terakhir. Contoh:
·         Gubernur menyumbang sepuluh juta rupiah, bupati menyumbang lima juta rupiah, dan para pengusaha menyumbang enam juta rupiah.
2.      Kata Penghubung dengan
Kata penghubung ini fungsinya untuk menyatakan "gabungan biasa", dapat pula digunakan diantara dua buah kata benda. Contoh:
·         Ibu dengan ayah pergi ke Bogor
·         Dia dengan anaknya sudah datang
3.      Kata Penghubung serta
Kata penghubung serta dengan fungsinya untuk menyatakan "gabungan biasa" digunakan di antara dua buah kata benda. Contoh:
·         Kakak serta nenek akan datang minggu depan
·         Uangmu serta uangku sebaiknya kita satukan saja untuk modal usaha.
Catatan: Kata penghubung dengan, serta, sebaiknya diganti/digunakan kata penghubung dan.
4.      Kata Penghubung atau
Kata penghubung atau dengan fungsi untuk menyatakan "memilih" dapat digunakan di antara bagian berikut.
a.       Dua buah kata benda atau frase benda Contoh:
·         Nama orang itu Adi atau Andi?
·         Sarjana teknik atau sarjana sastra sama pentingnya dalam pembangunan.
b.      Dua buah kata kerja. Contoh:
·         Jangan menegur atau mengajak bicara anak-anak nakal itu.
·         Dalam peperangan seperti itu tidak ada pikiran lain, membunuh atau dibunuh.
c.       Dua buah kata sifat yang berlawanan maknanya. Contoh:
·         Kaya atau miskin dihadapan tuhan tidak ada bedanya
·         Mahal atau murah akan kubeli rumah itu
d.      Kata kerja atau kata sifat dengan ingkarannya Contoh:
·         Kamu mau datang atau tidak, itu adalah urusanmu
·         Jujur atau tidak jujur orang-orang itu saja tidak tahu.
e.       Dua buah klausa dalam sebuah kalimat majemuk setara Contoh:
·         Saya yang datang kerumahnya, atau kau yang datang kerumahku?
·         Sebaiknya kita berangkat sekarang saja, atau kita tunggu dulu kedatangan beliau.
Catatan:   Kalau yang harus dipilih terdiri dari lebih dua unsur, maka kata penghubung atau ditempatkan diantara kedua unsur yang terakhir.
Contoh:
·         Teh, kopi, atau air putih yang hendak kau minum.
·         Nama anak itu Difa, Dika atau Dita?
5.      Kata Penghubung tetapi
Kata hubung tetapi dengan fungsi untuk menyatakan "menggabungkan pertentangan" digunakan di antara bagian berikut.
a.       Dua buah kata sifat yang berkontras di dalam sebuah kalimat. Contoh:
·         Anak itu cerdas tetapi malas
·         Dia memang bodoh tetapi rajin
b.      Dua buah klausa yang subjeknya merujuk pada identitas yang sama sedangkan predikatnya adalah dua buah kata sifat yang berkontras. Contoh:
·         Rumah itu besar dan indah, tetapi halamannya sempit
·         Anak itu memang bodoh, tetapi hatinya jujur
c.       Dua buah klausa yang subjeknya merujuk pada pada identitas yang tidak sama dengan predikatnya adalah dua buah kata sifat yang berlawanan. Contoh:
·         Ali sangat pandai tetapi Sudin sangat bodoh
·         Di luar rumah sangat gelap sekali, tetapi di dalam terang benderang

d.      Dua buah klausa yang klausa pertama berisi pertanyaan dan klausa kedua berisi pengingkaran dengan kata tidak. Contoh:
·         Kami ingin melanjutkan sekolah tetapi tidak ada biayanya
·         Saya memang hadir di sana tetapi tidak melihat hal-hal yang mencurigakan
Catatan:   Kata penghubung tetapi  tidak dapat digunakan sebagai penghubung antar kalimat
Contoh:
·         Saya ingin terus belajar. Tetapi ayah menyuruh saya bekerja
(Seharusnya: Saya ingin terus belajar, tetapi ayah menyuruh saya bekerja.)
·         Ibu mengizinkan saya pergi ke sana. Tetapi ayah melarang
(Seharusnya: Ibu mengizinkan saya pergi, tetapi ayah melarang)
6.      Kata Penghubung namun
Kata penghubung namun dengan fungsi "menggabungkan mempertentangkan" digunakan di antara dua buah kalimat. Kalimat pertama atau kalimat sebelunya berisi penyatuan dan kalimat kedua berisi pernyataan yang kontras dengan kalimat pertama. Contoh:
·         Sejak kecil dia kami asuh, kami didik, dan kami sekolahkan. Namun, setelah dewasa menjadi orang besar dia lupa kepada kami.
·         Sehabis lebaran banyak kantor masih sepi. Pegawai-pegawai cuma duduk-duduk, mengobrol, atau baca koran. Namun, mereka tetap berada di tempat sampai jam kantor.
Catatan:
Kata penghubung namun sesungguhnya sama fungsinya dengan kata penghubung tetapi. Namun, kata penghubung tetapi hanya digunakan sebagai penghubung antar klausa, sedangkan kata penghubung namun digunakan sebagai penghubung antar kalimat. Perhatikan contoh-contoh diatas.
Kata penghubung namun untuk lebih menegaskan, dapat diikuti kata begitu dan demikian.
Contoh:
·         Sejak kecil dia kami asuh, kami didik, dan kami sekolahkan. Namun begitu, setelah dewasa menjadi orang besar dia lupa kepada kami.
·         Dia memang bandel, keras kepala, dan suka membantah. Namun demikian, hatinya baik dan suka menolong.
7.      Kata Penghubung sedangkan
Kata penghubung ini dengan fungsi untuk "menggabungkan mempertentangkan atau mengkontraskan" digunakan di antara dua buah klausa. Contohnya:
·         Ayah menjadi dokter di puskesmas, sedangkan ibunya menjadi bidan.
·         Kami bekerja keras memperbaiki tanggul yang jebol itu, sedangkan mereka berdua duduk-duduk saja berpangku tangan.
8.      Kata penghubung sebaliknya
Kata penghubung sebaliknya dengan fungsi untuk menyatakan "menggabungkan mempertentangkan dengan tegas" dapat digunakan di antara dua buah klausa atau di antara dua buah kalimat. Contoh:
·         Di hadapan kita dia memang ramah. Sebaliknya, jauh dari kita sombongnya bukan main.
·         Muara sungai itu lebar dan dangkal. Sebaliknya, di bagian hulu sungai itu sempit dan dalam.

9.      Kata Penghubung malah dan malahan
Kata penghubung malah dan malahan dengan fungsi untuk "menguatkan mempertentangkan" digunakan di antara dua buah klausa tentang amanat keduanya bertentangan.

Contoh:
·         Diberi pertolongan bukannya mengucapkan terima kasih, malah ia memburuk-burukkan nama kita

10.        Kata Penghubung bahkan
Kata penghubung bahkan dengan fungsi "menggabungkan menguatkan" dapat digunakan di antara dua buah kalimat. Contohnya:
·         Anak itu memang nakal. Bahkan ibunya sendiri pernah ditipunya.
·         Dia pandai sekali memegang rahasia. Bahkan kita sendiri tidak tahu.

11.      Kata Penghubung lagipula
Contohnya: 1) Saya tidak hadir karena sakit. Lagipula saya tidak diundang. 2). Mari kita makan di restoran ini saja, masakannya enak, harganya murah, lagipula pelayanannya memuaskan.

12.      Kata Penghubung apalagi
Kata penghubung apalagi dengan fungsi untuk menyatakan "menggabungkan menguatkan" digunakan pada awal keterangan tambahan atau kalimat tambahan. Contoh:
·         Kamu saja yang lulusan SMA tidak tahu, apalagi saya yang cuma tamatan SD
·         Jalan-jalan di ibu kota seringkali macet. Apalagi pada jam-jam sibuk.
Catatan:
a.       Secara optimal kata penghubung apalagi dapat diikuti kata kalau atau jika, bila digunakan pada kalimat yang tidak bersubjek.
Contoh: Hawa disini sejuk sekali, Apalagi kalau malam hari. Saya tidak dapat hadir. Apalagi jika tidak dijemput.
13.      Kata Penghubung itupun
Kata penghubung itupun dengan fungsi "menggabungkan menguatkan" dapat digunakan diantara dua buah kalimat yang amanatnya sejalan. Kalimat pertama biasanya diawali dengan kata penghubung hanya. Contoh:
·         Hanya lima orang yang hadir dalam rapat itu. Itupun dua orang diantara mereka sudah akan meninggalkan rapat sebelum selesai.
·         Hanya seribu rupiah yang akan dapat kuberikan. Itupun sebenarnya lembaran uangku stu-satunya yang terakhir.

14.      Kata Penghubung  jangankan
Kata penghubung jangankan dengan fungsi "menguatkan mempertentangkan" digunakan pada bagian berikut. a. Di depan klausa pertama pada sebuah kalimat majemuk setara sedangkan pada klausa kedua biasanya disertakan partikel pun. Contohnya:
·         Jangankan berjalan, berdiri pun aku tak sanggup
·         Jangankan seribu, seripiah pun tak punya

15.      Kata Penghubung melainkan
Kata penghubung ini dengan fungsi untuk menyatakan "koreksi atau pembetulan" digunakan diantara dua buah klausa. Klausa pertama biasanya disertai dengan kata ingkar bukan, yang diletakan di muka unsur kalimat yang akan dikoreksi. Contoh:
·         Kami bukan mengejek, melainkan mengatakan apa adanya

16.      Kata Penghubung hanya
Kata penghubung hanya digunakan dengan aturan sebagai berikut:
a.       Untuk menyatakan "menggabungkan-mengecualikan" digunakan diantara dua buah klausa. Contohnya:
·         Semua orang setuju, hanya dia yang tidak setuju
·         Kami semua sudah siap untuk bertransmigrasi, hanya dia yang masih ragu-ragu
b.      Untuk menyatakan "menggabungkan mengoreksi" digunakan di antara dua buah klausa. Klausa pertama berisi pertanyaan positif, dan klausa kedua berisi pertanyaan yang mengurangi kepositifan klausa pertama.
Perilaku Sintaksis pada konjungsi sebagai berikut :
  1. Konjungsi koordinatif; menghubungkan dua atau lebih unsur (termasuk kalimat) yang sama pentingnya atau setara. Kalimat yang dibentuk disebut kalimat majemuk setara. Contoh: dan, serta, atau, tetapi, melainkan, padahal, sedangkan.
  2. Konjungsi korelatif; menghubungkan dua atau lebih unsur (tidak termasuk kalimat) yang memiliki status sintaksis yang sama dan membentuk frasa atau kalimat. Kalimat yang dibentuk agak rumit dan bervariasi, kadang setara, bertingkat, atau bisa juga kalimat dengan dua subjek dan satu predikat. Contoh: baik ... maupun, tidak hanya ..., tetapi juga, bukan hanya ..., melainkan juga, demikian ... sehingga, sedemikian rupa ... sehingga, apa(kah) ... atau, entah ... entah, jangankan ..., ... pun.
  3. Konjungsi subordinatif; menghubungkan dua atau lebih klausa yang tidak memiliki status sintaksis yang sama. Konjungsi membentuk anak kalimat yang jika digabungkan dengan induk kalimat akan membentuk kalimat majemuk bertingkat.
    1. Konjungsi subordinatif waktu; sejak
    2. Konjungsi subordinatif syarat; jika
    3. Konjungsi subordinatif pengadaian; andaikan
    4. Konjungsi subordinatif tujuan; agar
    5. Konjungsi subordinatif konsesif; biarpun
    6. Konjungsi subordinatif pembandingan; ibarat
    7. Konjungsi subordinatif sebab; karena
    8. Konjungsi subordinatif hasil; sehingga
    9. Konjungsi subordinatif alat; dengan
    10. Konjungsi subordinatif cara; tanpa
    11. Konjungsi subordinatif komplementasi; bahwa
    12. Konjungsi subordinatif atributif; yang
    13. Konjungsi subordinatif perbandingan; sama ... dengan

  1. Konjungsi antarkalimat; merangkaikan dua kalimat, tetapi masing-masing merupakan kalimat sendiri.
4.       Interjeksi
Interjeksi atau kata seru adalah partikel yang mengungkapkan rasa hati pembicara. Interjeksi biasanya dipakai di awal kalimat dan pada penulisannya diikuti oleh tanda koma (,). Secara struktural interjeksi tidak bertalian dengan unsur kalimat lain. Interjeksi umumnya berupa bentuk dasar, meskipun ada juga yang berbentuk turunan.
Banyak interjeksi yang digunakan dalam bahasa lisan atau bahasa tulis yang berbentuk percakapan. Karena itu, umumnya interjeksi macam itu lebih bersifat tidak formal. Pada bahasa tulis yang tidak merupakan percakapan, khususnya yang bersifat formal, interjeksi jarang dipakai.
JENIS -jenis INTERJEKSI yaitu :
1.   Interjeksi kejijikan: bah
2.   Interjeksi kekesalan: huh, brengsek
3.   Interjeksi kekaguman atau kepuasan: aduhai
4.   Interjeksi kesyukuran: syukur
5.   Interjeksi harapan: insya Allah
6.   Interjeksi keheranan: aduh
7.   Interjeksi kekagetan: astaga
8.   Interjeksi ajakan: ayo
9.   Interjeksi panggilan: hai
10.  Interjeksi simpulan: nah


5.       Artikel
Artikel, artikula, atau kata sandang adalah partikel yang membatasi makna nomina.
Jenis-jenis  artikel yaitu :
Dalam bahasa Indonesia, ada tiga kelompok artikel.
1.      Artikel yang bersifat gelar: sang, sri, hang, dang.

2.      Artikel yang mengacu ke makna kelompok: para, kaum, umat.
3.      Artikel yang menominalkan: si. Pemakaiannya untuk:
1.      Di depan nama diri pada ragam akrab atau kurang hormat: si Ali, si Toni;
2.      Di depan kata untuk mengkhususkan orang yang melakukan sesuatu atau terkena sesuatu: si pengirim, si alamat, si terdakwa;
3.      Di depan nomina untuk dipakai sebagai timangan, panggilan, atau ejekan: si belang, si bungsu;
4.      Dalam bentuk verba yang menandakan dirinya menjadi bersifat tertentu: bersitegang, bersikukuh;
5.      Pada berbagai nama tumbuhan dan binatang: siangit, sibusuk, simalakama.

6.       Penegas
Partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Dalam bahasa Indonesia, ada empat partikel penegas, yaitu -kah, -lah, -tah, dan pun. Tiga yang pertama adalah klitik sedangkan yang keempat tidak.

Jenis-jenis penegasan yaitu :

1.      -kah

Dipakai dalam kalimat interogatif dan berfungsi menegaskan.
·        Mengubah kalimat deklaratif menjadi kalimat interogatif: Diakah yang akan datang?
·        Bersifat manasuka dalam kalimat interogatif yang telah memiliki kata tanya seperti apa, di mana, dan bagaimana: Apakah ayahmu sudah datang?
·        Memperjelas kalimat interogatif yang tidak memiliki kata tanya: Akan datangkah dia nanti malam?

2.      -lah

Dipakai dalam kalimat imperatif atau deklaratif.
·        Menghaluskan sedikit nada perintah kalimat imperatif: Pergilah sekarang, sebelum hujan turun!
·        Memberikan ketegasan yang lebih keras dalam kalimat deklaratif: Dari ceritamu, jelaslah kamu yang salah.

3.      -tah

Dipakai dalam kalimat interogatif. Bersifat retoris: penanya tidak berharap mendapat jawaban dan seolah hanya bertanya pada diri sendiri. Partikel -tah banyak digunakan dalam sastra lama tapi kini tak banyak dipakai lagi.
Contoh: Apatah artinya hidup ini tanpa engkau?

4.      pun

Dipakai dalam kalimat deklaratif.
·         Mengeraskan arti kata yang diiringinya: Mereka pun akhirnya setuju dengan usul kami.
·         Menandakan perbuatan atau proses mulai berlaku atau terjadi jika dipakai bersama -lah: Tidak lama kemudian hujan pun turunlah dengan derasnya.


G.   Penulisan Angka dan Lambang Bilangan
Cara penulisan angka dan lambang yang benar ikut menentukan proses penulisan artikel yang bagus. Penulisan angka dan lambang yang benar, tak cuma memperjelas makna yang ingin disampaikan oleh artikel tersebut. Tapi juga menunjukkan profesionalisme anda dalam menyajikan sebuah informasi.
Ragam artikel ada beberapa, seperti artikel ilmiah, artikel populer, artikel jurnalistik dan lainnya. Nah, ragam artikel ilmiah termasuk yang banyak menggunakan angka dan lambang. Sebagai penulis artikel yang bagus, sudah selayaknya anda pun menyimak cara penggunaan angka dan lambang berikut;
1.    Angka digunakan sebagai lambang bilangan atau penomoran, baik dalam angka Arab (0,1, 2, 3, 4, dan seterusnya) maupun angka Romawi (I, II, III, IV, V, dan seterusnya)
2.    Angka juga dipakai untuk menyatakan ukuran panjang, luas, berat, isi dan waktu, kuantitas dan nilai uang. Contohnya; 1 meter, 5 kilogram, 10 hekter, 10 kubik, pukul 05.00, 15 kali dan Rp 100.000
3.    Angka juga biasa dipakai untuk nomor rumah, jalan dan kamar hotel. Misalnya Rumah  no 5, kamar nomor 503 dan seterusnya.
4.    Angka juga dipakai untuk menomori majalah atau buku dan ayat suci. Misalnya; halangan 11 dan Surat Al Baqarah 5
Itu tadi adalah lima poin soal penulisan angka dalam artikel. Berikutnya, cara penulisan lambang bilangan dalam artikel.
Penulisan lambang bilangan dengan huruf bisa untuk bilangan utuh dan pecahan. Contohnya;
1.    Bilangan utuh
-          1 (satu)
-           3 (tiga)
-          12 (dua belas)-
-          131 (seratus tiga puluh satu)
2.    Bilangan pecahan
        -     ¼     (seperempat)
        -     ½     (setengah)
        -     ¾     (tiga perempat)
        -     3 ½  (tiga setengah)

3.    Penulisan bilangan tingkat. Contohnya;
       -      Hamengkubuwono X
       -      Awal abad XXI
       -      Cicilan ke-17

4.    Lambang bilangan yang mendapat akhiran –an, berikut cara penulisannya dalam artikel;
       -      Tahun ’50-an
-      Uang 10.000-an
-      Empat uang 500-a

5.    Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, ditulis dengan huruf. Kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai beruntun.
             Dalam penulisan artikel, 3 ditulis dengan “tiga” (satu kata)
-       Adik membeli dua ratus ekor benih lele.

6.    Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat ditulis dengan satu atau dua kata tidak terdapat di awal kalimat.
       -       Lima rumah hanyut terbawa banjir.
-       Banjir menggenangi 5.100 rumah.
7.    Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar