BAB II
PEMBAHASAN
A.
Ejaan Yang
Disempurnakan
Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah
tulis-menulis yang telah di
standarisasi. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek, yakni :
1.
Aspek fonologis yang menyangkut
penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad
2.
Aspek morfologi yang menyangkut
penggambaran satuan-satuan morfemis
3.
Aspek sintaksis yang menyangkut penanda
ujaran tanda baca.
KBBI (1993:250) ejaan ialah kaidah-kaidah cara
menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan
(huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Dengan demikian,secara sederhana
dapat dikatakan bahwa ejaan adalah seperangkat kaidah tulis-menulis yang
meliputi kaidah penulisan huruf, kata, dan tanda baca.
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf kapital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD di sini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail. Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf kapital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD di sini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail. Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar
B.
Pelafalan dan Huruf
1. Pengertian pelafalan
Lafal adalah cara seseorang atau sekelompok
orang dalam suatu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa. Terkadang dalam
berkomunikasi sering terjadi kesalahan karena belum memahami lafal, tekanan intonasi,
dan jeda yang lazim/ baku dan yang tidak lazim. Untuk itu anda perlu memahami
lafal, tekanan, intonasi dan jeda.
Dalam komunikasi lisan pelafalan huruf harus jelas dan tepat, melafalkan huruf harus sesuai dengan huruf tersebut, misalnya huruf /V/ dilafalkan /pe/ akan timbul salah pengertian.
Dalam komunikasi lisan pelafalan huruf harus jelas dan tepat, melafalkan huruf harus sesuai dengan huruf tersebut, misalnya huruf /V/ dilafalkan /pe/ akan timbul salah pengertian.
lafal kata dengan artikulasi yang tepat dapat dilihat
dari segi:
a.
Tekanan sudah mendekati standar, tidak ada pengaruh
bahasa asing dan bahasa daerah.
b.
Ucapan mudah dipahami.
c.
Sekali-sekali timbul kesukaran memahami.
d.
Benar-benar tidak dapat dipahami.
2.
Huruf
a.
Pengertian huruf
Dalam kamus besar bahasa Indonesia,
huruf didefinisikan sebagai tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan
anggota abjad yang melambangkan bunyi bahasa. Berdasarkan pengertian tersebut,
dapat kita katakan kalau huruf adalah lambang dari bunyi. Misalnya bunyi be
lambangnya atau hurufnya adalah b, bunyi el lambangnya adalah l, dan
seterusnya.
b.
Pelafalan huruf
Abjad bahasa Indonesia terdiri atas 26
huruf. Dalam abjad itu terdapat 21 konsonan dan 5 huruf vokal.
|
Huruf
|
Dibaca
|
Huruf
|
Dibaca
|
|
A a
|
A
|
N n
|
en
|
|
B b
|
Be
|
O o
|
o
|
|
C c
|
Ce
|
P p
|
pe
|
|
D d
|
De
|
Q q
|
ki
|
|
E e
|
E
|
R r
|
er
|
|
F f
|
Ed
|
S s
|
es
|
|
G g
|
ge
|
T t
|
te
|
|
H h
|
ha
|
U u
|
u
|
|
I i
|
I
|
V v
|
ve
|
|
J j
|
Je
|
W w
|
we
|
|
K k
|
Ka
|
X x
|
eks
|
|
L l
|
El
|
Y y
|
ye
|
|
M m
|
em
|
Z z
|
Jet
|
3. Fonem dan Diftong
a.
Fonem
Selain 26 huruf
tadi, bahasa indonesia juga menggunakan gabungan konsonan.
Contoh:
kh
seperti dalam khusus, akhir
ng
seperti dalam ngilu, bangun
ny
seperti dalam nyata, nyonya
sy
seperti dalam syair, asyik
Setiap
gabungan konsonan itu menghasilkan satu fonem atau satu bunyi. Karena itu kh,
ng, ny, sy masing-masing dihtung satu konsonan.
Contoh :
akhir = v k v k
anyam = v k v k
ngilu = k v k v
syair = k v v k
jadi, walaupun
jumlah huruf diatas ada lima, tetapi untuk jumlah vokal dan konsonan untuk
setip kata ada lima.
b.
Diftong
Diftong adalah
gabungan dua huruf vokal.
Contoh :
Diftong /ai/ dalam
kata :
bantai
dilafalkan /bantay/
ngarai
dilafalkan /ngaray/
pandai
dilafalkan /panday/
santai
dilafalkan /santay/
Diftong /au/ dalam
kata :
Kacau
dilaflkan /kacaw/
Kerbau
dilafalkan /kerbaw/
Limau
dilafalkan /limaw/
Diftong /oi/ dalam
kata :
Amboi dilafalkan /amboy/
Boikot
dilafalkan /boykot/
Jika vokal beruntun /ai/, /au/ terdapat dalam kata yang
pelafalan sama persis dengan huruf aslinya, vokal tersebut bukan diftong.
Contoh:
|
Kata
|
Dilafalkan
|
Bukan
dilafalkan
|
|
Mulai
|
/mulai/
|
/mulay/
|
|
Namai
|
/namai/
|
/namay/
|
|
Bau
|
/bau/
|
/baw/
|
|
Mau
|
/mau/
|
/maw/
|
Dengan
berpedoman pada EYD, dalam membaca singkatan kata yang dibaca huruf demi huruf,
pelafalannya pun harus sesuai dengan huruf bahasa Indonesia.
Contoh:
|
Singkatan
|
Dibaca
|
Bukan dibaca
|
|
AC
|
a-ce
|
a-se
|
|
BBC
|
be-be-ce
|
bi-bi-ci
|
|
CIA
|
ce-i-a
|
si-ai-ei
|
|
FBI
|
ef-be-i
|
ef-bi-ai
|
|
IGGI
|
i-ge-ge-i
|
i-ji-ji-ai
|
|
IMF
|
i-em-ef
|
ai-em-ef
|
|
MTQ
|
em-te-ki
|
em-tek-kyu
|
|
RCTI
|
er-ce-te-i
|
er-se-te-i
|
|
TV
|
te-ve
|
ti-fi
|
a.
Vokal /a/
Vokal
/a/ dilafalkan agak panjang apabila berada pada suku kata terbuka. Misalnya: su-ka, ma-ta, den-da, tang-ga.
Pelafalan
vokal /a/ lain ada yang agak singkat apabila berada pada suku tertutup.
Misalnya ; de-pan, be-sar, ke-lam.
b.
Vokal /u/
Vokal
/u/ mempunyai dua alofon, yaitu [u] pada suku terbuka dan [u] pada suku
tertutup.
Suku terbuka
u-pah
tu-kang
ban-tu
Suku tertutup
bung-su
rum-put
c.
Konsonan /b/
Konsonan
/b/ dilafalkan jelas apabila berada pada posisi awal suku kata. Misalnya :
ba-las, bi-na, be-nar, bo-la.
Konsonan
/b/ yang lain ada yang dilafalkan seperti bunyi /p/ apabila berada posisi akhir
suku kata. Misalnya : sab-tu dilafalkan sap-tu.
Dalam
tuturan ada sejumlah fonem yang dilafalkan tidak sesuai dengan lafal yang tepat
sehingga lafal tersebut menjadi tidak baku.
Contoh
:
Tabel
A:
|
Pelafalan
baku
|
Pelafalan
tidak baku
|
|
aktif
|
aktip
|
|
fitnah
|
pitnah
|
|
fungsi
|
Pungsi
|
|
izin
|
Ijin
|
|
ijazah
|
ijasah
|
|
zaman
|
jaman
|
|
vitamin
|
pitamin
|
Tabel B:
|
Kata
|
Pelafalan
yang salah
|
Ket.
|
|
memerah (=memeras)
|
[memerah] (=menjadi merah)
|
salah arti
|
|
mental (=jiwa)
|
[mental] (=terpelanting)
|
salah arti
|
|
Syarat
|
[sarat]
|
salah arti
|
|
Syah
|
[sah]
|
salah arti
|
|
Massa
|
[masa]
|
salah arti
|
Berdasarkan
uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pelafalan adalah hal yang sangat
penting dalam pengucapan bunyi bahasa.
Dalam
pelafalan baku hendaknya melafalkan kata sesuai dengan kaidah EYD.
Jika terjadi pelafalan yang salah akan terjadi perbedaan
makna.
Contoh :
Dia terkena bisa
ular.
Kata bisa pada
kalimat tadi berarti racun, kata bisa itu bisa tertukar maknanya menjadi dapat melakukan.
C.
Pedoman Penulisan Huruf Kapital
Berikut adalah pedoman
penulisan tanda baca sesuai dengan Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
a. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama
kata pada awal kalimat.
Misalnya:
Dia membaca buku.
Apa maksudnya?
Dia membaca buku.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja
keras.
Pekerjaan
itu akan selesai dalam satu jam.
b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan
ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata
ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Islam
Allah
Quran
Alkitab
Weda
Yang Mahakuasa
Yang Maha Pengasih
Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.
Allah
Quran
Alkitab
Weda
Yang Mahakuasa
Yang Maha Pengasih
Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.
c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar
kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim
d. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar
kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Pada tahun ini dia pergi naik haji.
Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.
Pada tahun ini dia pergi naik haji.
Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.
e. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama
jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan
sebagai pengganti nama orang tertentu.
Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
f. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau
nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.
Misalnya:
Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.
Sidang itu dipimpin Presiden.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Sidang itu dipimpin Presiden.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
g. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama
jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau
nama tempat tertentu.
Misalnya:
Berapa orang camat
yang hadir dalam rapat itu?
Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.
Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.
Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.
Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.
h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama
orang.
Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere
Catatan:
a. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti
pada de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).
Misalnya:
Misalnya:
J.J de Hollander
J.P. van Bruggen
H. van der Giessen
Otto von Bismarck
Vasco da Gama
J.P. van Bruggen
H. van der Giessen
Otto von Bismarck
Vasco da Gama
b. Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk
menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.
Misalnya:
Abdul Rahman bin Zaini
Ibrahim bin Adham
Ibrahim bin Adham
Siti Fatimah binti Salim
i.
Huruf kapital dipakai
sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis
atau satuan ukuran.
Misalnya:
pascal second
J/K atau JK-1
N
joule per Kelvin
Newton
J/K atau JK-1
N
joule per Kelvin
Newton
j.
Huruf kapital tidak
dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau
satuan ukuran.
Misalnya:
mesin diesel
10 volt
5 ampere
10 volt
5 ampere
k. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku
bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Eskimo
suku Sunda
bahasa Indonesia
l.
Huruf kapital tidak
dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan
sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan
m. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun,
bulan, hari, dan hari raya.
Misalnya:
tahun Hijriah
bulan Agustus
hari Jumat
bulan Agustus
hari Jumat
hari Lebaran
tarikh Masehi
bulan Maulid
hari Galungan
tarikh Masehi
bulan Maulid
hari Galungan
n. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama
peristiwa sejarah.
Misalnya:
Perang Candu
Perang Dunia
I
Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia
o. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa
sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta
memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko
pecahnya perangdunia.
p. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama
diri geografi.
Misalnya:
Banyuwangi
Cirebon
Eropa
Asia Tenggara
Amerika Serikat
Jawa Barat
Cirebon
Eropa
Asia Tenggara
Amerika Serikat
Jawa Barat
q. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama
geografi yang diikuti nama diri geografi.
Misalnya:
Bukit Barisan
Dataran Tinggi Dieng
Jalan Diponegoro
Ngarai Sianok
Selat Lombok
Sungai Musi
Teluk Benggala
Danau Toba
Gunung Semeru
Jazirah Arab
Lembah Baliem
Pegunungan Jayawijaya
Tanjung Harapan
Dataran Tinggi Dieng
Jalan Diponegoro
Ngarai Sianok
Selat Lombok
Sungai Musi
Teluk Benggala
Danau Toba
Gunung Semeru
Jazirah Arab
Lembah Baliem
Pegunungan Jayawijaya
Tanjung Harapan
r.
Huruf kapital dipakai
sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang
mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.
Misalnya:
ukiran Jepara
tari Melayu
asinan Bogor
pempek Palembang
sarung Mandar
sate Mak Ajad
tari Melayu
asinan Bogor
pempek Palembang
sarung Mandar
sate Mak Ajad
s. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur
geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.
Misalnya:
berlayar ke teluk
menyeberangi selat
mandi di sungai
berenang di danau
menyeberangi selat
mandi di sungai
berenang di danau
t.
Huruf kapital tidak
dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai
penjelas nama jenis.
Misalnya:
nangka belanda
kunci inggris
harimau sumatera
petai cina
pisang ambon
u. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama
resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen
resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.
Misalnya:
Republik Indonesia
Departemen Keuangan
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor
57 Tahun 1972
Badan Kesejahteraan Ibu
dan Anak
v. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang
bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama
dokumen resmi.
Misalnya:
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah
dan rakyat
menjadi sebuah republik
menurut undang-undang
yang berlaku
Catatan:
1. Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi,
lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara
tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
Misalnya:
Pemberian
gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.
Tahun
ini Departemen sedang menelaah masalah itu.
Surat itu
telah ditandatangani oleh Direktur.
w. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur
bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga
ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Rancangan Undang-Undang
Kepegawaian
Yayasan Ilmu-Ilmu
Sosial
Dasar-Dasar
Ilmu Pemerintahan
x. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata
(termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat
kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari
Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan
Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar
Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
y. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan
nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.
Misalnya:
|
Dr.
|
Doctor
|
||||||
|
S.E.
|
sarjana
ekonomi
|
||||||
|
S.H.
|
sarjana hokum
|
||||||
|
S.S.
|
sarjana
sastra
|
||||||
|
S.Kp.
|
sarjana
keperawatan
|
||||||
|
M.A.
|
master of
arts
|
||||||
|
M.Hum.
|
magister
humaniora
|
||||||
|
Prof.
|
Professor
|
||||||
|
K.H.
|
kiai haji
|
||||||
|
Tn.
|
Tuan
|
||||||
|
|||||||
Catatan:
Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk
singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.
z. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata
penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau
penyapaan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak
dan ibu kita.
Semua kakak dan adik
saya sudah berkeluarga.
Dia tidak mempunyai saudara
yang tinggal di Jakarta.
aa. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
Surat Anda telah kami
terima dengan baik.
bb. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata,
seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan
lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu.
(Lihat contoh pada EYD pasal I B, I C, I E, dan II F15).
D.
Suku Kata
Suku kata
adalah penggalan-penggalan bunyi dari kata dalam satu ketukan atau satu
hembusan nafas. Kata rumah akan diucapkan ru dan mah, kata
berenang akan diucapkan be, re, dan nang jika kedua
kata itu diucapkan dengan cara sepenggal- sepenggal.
1. Jumlah suku kata pada bahasa Indonesia
Setiap kata dalam bahasa Indonesi
memiliki suku kata yg berbeda-beda.
a.
Terdiri dari satu suku kata, contoh: cat, bor, bom,
lap, dan lain-lain.
b.
Terdiri dari dua suku kata, contoh: pa-gi, ru-mah,
a-ku, ka-mu, dan lainya.
c.
Terdiri dari tiga suku kata, contoh: me-re-ka,
ke-ma-ri, sa-ra-pan, dan lainnya.
d.
Terdiri dari empat suku kata, contoh: tu-na-wis-ma,
da-sa-war-sa, dan lainnya.
e.
Terdiri dari lima suku kata, contoh: pra-mu-ni-a-ga,
dar-ma-wi-sa-ta.
2. Pola-pola suku kata dalam bahasa Indonesia
a.
Pola KV (konsonan vokal), contoh: sa-ku, se-la-ma,
se-pa-tu, dan lainnya.
b. Pola VK,
contoh: an-da, am-pun, dan lain-lain.
c. Pola KVK,
contoh: lak-sa-na, pe-rak, dan lainny.
d. Pola KKV,
contoh: pra-mu-ga-ri.
e. Pola KKVK,
contoh: ben-trok.
f. Pola KKKVK,
contoh: struk-tur.
Jika suku
kata berahir dengan vokal, maka disebut suku buka. Dan jika berahir dengan
konsonan disebut suku tutup.
3. Aturan pemenggalan atau penyukuan kata
a.
Jika dua vokal berada di tengah kata, maka pemenggalan
diantara dua vokal, contoh: main
dipenggal ma-in.
b.
Jika konsonan diapit dua pokal seperti kata anak,
barang, maka pemenggalan sebelum hurup konsonan, contaoh: a-nak,
ba-rang.
c.
Jika dua konsonan berurutan di tengah kata,
pemenggalan dilakukan diantara dua
konsonan, contoh: sanjung menjadi san-jung.
d.
Jika ditengah kata terdapat tiga konsonan atau lebih,
pemenggalan dilakukan diantara konsonan
pertama dan kedua, contoh: bentrok menjadi ben-trok.
E.
Kata
Kata atau ayat adalah suatu
unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu
atau lebih morfem. Umumnya kata terdiri dari satu akar kata tanpa atau
dengan beberapa afiks. Gabungan kata-kata dapat membentuk frasa, klausa,
atau kalimat.
Kata "kata" dalam bahasa Melayu dan
Indonesia diambil dari bahasa Ngapak kathā. Dalam bahasa
Sanskerta, kathā sebenarnya bermakna "konversasi",
"bahasa", "cerita" atau "dongeng". Dalam bahasa
Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantis menjadi "kata".
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1997) memberikan beberapa
definisi mengenai kata:
1.
Elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan
atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang
dapat digunakan dalam berbahasa
2.
konversasi, bahasa
3.
Morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat
diujarkan sebagai bentuk yang bebas
4.
Unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri
dari satu morfem (contoh kata) atau beberapa morfem gabungan
(contoh perkataan).
Definisi pertama KBBI bisa diartikan
sebagai leksem yang bisa menjadi lema atau entri sebuah kamus. Lalu
definisi kedua mirip dengan salah satu arti sesungguhnya kathā dalam
bahasa Sanskerta. Kemudian definisi ketiga dan keempat bisa diartikan
sebagai sebuah morfem atau gabungan morfem.
1.
Jenis Kata
Berdasarkan bentuknya, kata bisa digolongkan menjadi empat: kata
dasar, kata turunan, kata ulang, dan kata majemuk. Kata dasar
adalah kata yang merupakan dasar pembentukan kata turunan atau kata berimbuhan.
Perubahan pada kata turunan disebabkan karena adanya afiks atau
imbuhan baik di awal (prefiks atau awalan), tengah (infiks atau sisipan),
maupun akhir (sufiks atau akhiran) kata. Kata ulang adalah kata dasar atau
bentuk dasar yang mengalami perulangan baik seluruh maupun sebagian sedangkan
kata majemuk adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda membentuk suatu
arti baru.
Dalam tata bahasa baku bahasa Indonesia, kelas kata terbagi menjadi tujuh
kategori, yaitu:
a.
Nomina (kata benda); nama dari seseorang, tempat,
atau semua benda dan segala yang dibendakan, misalnya buku, kuda.
b.
Verba (kata kerja); kata yang menyatakan suatu
tindakan atau pengertian dinamis, misalnya baca, lari.
1.
Verba transitif (membunuh),
2.
Verba kerja intransitif (meninggal),
3.
Pelengkap (berumah)
c.
Adjektiva (kata sifat); kata yang menjelaskan
kata benda, misalnya keras, cepat.
d.
Adverbia (kata keterangan); kata yang memberikan
keterangan pada kata yang bukan kata benda, misalnya sekarang, agak.
e.
Pronomina (kata ganti); kata pengganti kata
benda, misalnya ia, itu.
1. Orang
pertama (kami),
2. Orang kedua
(engkau),
3. Orang ketiga
(mereka),
4. Kata ganti
kepunyaan (-nya),
5. Kata ganti
penunjuk (ini, itu)
f.
Numeralia (kata bilangan); kata yang menyatakan
jumlah benda atau hal atau menunjukkan urutannya dalam suatu deretan,
misalnya satu, kedua.
1. Angka
kardinal (duabelas),
2.
Angka ordinal (keduabelas)
2.
Penentuan Batas Kata
Dalam ilmu linguistik ada minimal lima cara dalam menentukan batas-batas
kata:
A.
Pada jeda
Seorang pembicara disuruh untuk mengulang kalimat yang diberikan secara
pelan, diperbolehkan untuk beristirahat dan mengambil jeda. Sang pembicara maka
akan cenderung memasukkan jeda pada batas-batas kata. Namun metoda ini tidaklah
sempurna: sang pembicara bisa dengan mudah memilah-milah kata-kata yang terdiri
dari banyak suku kata.
B.
Keutuhan
Seorang pengguna disuruh untuk mengucapkan sebuah kalimat secara
keras dan lalu disuruh untuk mengucapkannya lagi dan ditambah beberapa kata.
C.
Bentuk bebas minimal
Konsep ini pertama kali diusulkan oleh Leonard Bloomfield. Kata-kata
adalah leksem, jadi satuan terkecil yang bisa berdiri sendiri.
D.
Batas fonetis
Beberapa bahasa mempunyai aturan pelafazan khusus yang membuatnya mudah
ditinjau di mana batas kata sejatinya. Misalnya, di bahasa yang secara teratur
menjatuhkan tekanan pada suku-kata terakhir, maka batas kata mungkin jatuh
setelah masing-masing suku-kata yang diberi tekanan. Contoh lain bisa
didengarkan pada bahasa yang mempunyai harmoni vokal (seperti bahasa Turki):
vokal dalam sebagian kata memiliki "kualitas" sama, oleh sebab itu
batas kata mungkin terjadi setiap kali kualitas huruf hidup berganti. Tetapi,
tidak semua bahasa mempunyai peraturan fonetis seperti itu yang mudah, kalaupun
iya, pada bahasa ini ada pula perkecualiannya.
E.
Satuan semantis
Seperti pada banyak bentuk bebas yang minimal yang disebut di atas ini,
metode ini memilah-milah kalimat ke dalam
kesatuan-kesatuan semantiknya yang paling kecil. Tetapi, bahasa
sering memuat kata yang mempunyai nilai semantik kecil (dan sering memainkan
peran yang lebih gramatikal), atau kesatuan-kesatuan semantik yang adalah kata
majemuk.
Dalam prakteknya, ahli bahasa mempergunakan campuran semua metode ini untuk
menentukan batas kata dalam kalimat. Namun penggunaan metode ini, definisi
persis kata sering masih sangat sukar ditangkap.
F. Partikel
Kata
Partikel atau kata tugas adalah kelas kata yang
hanya memiliki arti gramatikal dan tidak mempunyai arti leksikal. Arti suatu
kata tugas ditentukan oleh kaitannya dengan kata lain dalam suatu frasa atau
kalimat dan tidak bisa digunakan secara lepas atau berdiri sendiri.
Kata tugas dikelompokkan menjadi lima bagian, yaitu:
1. Preposisi
Preposisi atau kata depan adalah kata yang
secara sintaksis terdapat di depan nomina, adjektiva,
atau adverbia dan secara semantis menandai berbagai
kata lain
dalam suatu frasa atau kalimat dan tidak bisa digunakan secara lepas atau
berdiri sendiri.
Kata tugas
dikelompokkan menjadi lima bagian, yaitu:
2.
Preposisi
Preposisi atau kata depan adalah kata yang
secara sintaksis terdapat di depan nomina, adjektiva,
atau adverbia dan secara semantis menandai berbagai hubungan makna
antara konstituen di depan dan di belakang preposisi tersebut misalnya dari, dengan, di, ke.
Kata-kata yang digunakan di depan kata benda untuk merangkaikan kata benda
itu dengan bagian kalimat lain disebut kata depan. Umpama kata-kata di, dengan
dan oleh pada kalimat berikut:
1.
Kakek tinggal di desa.
2.
Nenek menulis dengan sepidol.
3.
Jembatan ini dibangun oleh pemerintah.
Dilihat dari fungsinya, kata depan menyatakan hal-hal
berikut:
a.
Tempat berada, yaitu; di, pada, dalam, atas dan
antara.
b.
Arah asal, yaitu; dari.
c.
Arah tujuan, yaitu; ke, kepada, akan, dan terhadap.
d.
Pelaku, yaitu; oleh.
e.
Alat, yaitu; dengan dan berkat.
f.
Perbandingan, yaitu; daripada.
g.
Hal atau masalah, yaitu; tentang dan mengenai.
h.
Akibat, yaitu; hingga dan sampai.
i.
Tujuan, yaitu; untuk, buat, guna, dan bagi.
Jenis-jenis preposisi sebagai berikut :
1.
Kata depan dalam.
Kata depan dalam digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1.
Untuk menyatakan tempat berada digunakan di depan kata
benda sebagai variasi dari kata depan di dalam.
Contoh;
·
Jangan bermain dalam kelas,
·
Buku itu disimpan dalam lemari,
·
Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.
2.
Untuk menyatakan "berada dalamsuatu situasi atau
peristiwa" digunakan di depan kata benda. Contoh;
·
Kita harus hati-hati dalam pergaulan di kota besar.
·
Dalam perjalanan ke Eropa, kami singgah di Kairo.
·
Dalam bentrokan itu beberapa orang menjadi korban.
3.
Untuk menyatakan "jangka waktu", digunakan
di muka kata yang menyatakan lama waktu. Contoh;
·
Pekerjaan itu akan selesai dalam beberapa hari.
·
Dalam waktu 2 jam perampok itu telah dapat dibekuk.
·
Kredit vespa diangsur dalam waktu 2 tahun.
2.
Kata depan atas.
Kata depan
atas dapat digunakan dalam aturan seperti berikut:
1.
Untuk menyatakan "tempat" digunakan di depan
kata benda sebagai varian dari kata di atas. Contoh;
·
Kami berdiri atas keadilan dan kebenaran.
·
Beban yang dipikulkan atas pundak rakyat sudah terlalu
berat.
·
Berbagai masalah telah menimpa atas diri kami.
2.
Untuk menghubungkan predikat intransitif dengan
pelengkapnya. Contoh;
·
Mereka berhak atas barang-barang itu.
·
Kami menyesal atas kejadian itu.
·
Saya ikut berduka cita atas musibah itu.
Catatan: Kata depan atas digunakan
juga dalam beberapa ungkapan yang sudah tetap, seperti:
·
atas nama
·
atas kehendak
·
atas anjuran
·
atas permintaan, dan
3.
Kata depan
antara.
Kata depan antara digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1.
Untuk menyatakan "jarak", digunakan di depan
dua buah kata benda yang menyatakan tempat yang dirangkaikan dengan kata depan
dan. Contoh;
·
Banjir melanda daerah antara Bekasi dan Karawang.
·
Jarak antara Jakarta dan Bogor hanya 60 km.
·
Bedanya antara langit dan bumi.
2.
Untuk menyatakan "adanya dua pihak",
digunakan di muka dua buah kata benda yang menyatakan orang atau yang
diorangkan, yang dirangkaikan dengan kata depan dengan. Contoh;
·
Perang antara Iran dan Irak semakin hebat.
·
Perundingan antara Indonesia dan Malaysia sedang
berlangsung.
·
Perdamaian antara Mesir dan Israel tidak bisa kekal.
3.
Untuk menyatakan "suatu tempat, suatu saat, suatu
keadaan atau hal", digunakan di muka dua buah kata benda yang menyatakan
tempat atau waktu (atau di muka dua buah kata lain yang menyatakan keadaan)
yang dirangkaikan dengan kata depan dengan. Contoh;
·
Tabrakan itu terjadi di jalan raya antara Yogyakarta
dan Solo.
·
Pencarian itu terjadi antara pukul tiga dan pukul
empat pagi.
·
Antara tidur dan jaga saya mendengar suara ketukan
pintu.
4. Kata depan kepada
Kata depan kepada digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1. Untuk
menyatakan "tempat yang dituju", digunakan di muka objek dalam
kalimat yang predikatnya mengandung pengertian "tertuju terhadap
sesuatu". Contoh:
·
Personalia itu telah dilaporkan kepada Gubernur.
·
Harus melapor dulu kepada bagian keamanan.
·
Kami akan minta bantuan kepada Lembaga Bantuan Hukum
(LBH).
Catatan: Kalau kata depan ke menyatakan "arah tempat yang
sebenarnya" maka kata depan kepada menyatakan "arah tempat yang tidak
sebenarnya". Bandingkan contoh berikut;
·
Kembali ke desa.
·
Kembali kepada UUD 1945.
2.
Untuk menyatakan "arah yang dituju", dapat
digunakan sebagai varian kata depan akan. Contoh;
·
Ia takut sekali kepada hantu.
·
Kami selalu ingat kepada ibunya.
·
Dia sudah lupa kepada kewajibannya.
5.
Kata Depan akan
Kata depan akan dengan aturan sebagai berikut.
1.
Untuk menunjuk objek, digunakan di dalam kalimat yang
predikatnya menunjukkan sikap batin. Contoh:
·
Saya masih ingat akan peristiwa bersejarah itu.
·
Dia baru sadar akan keluarganya.
·
Kami sudah bosan akan lagu-lagu itu.
2.
Untuk menguatkan kata yang berada di belakangnya,
dapat digunakan sebagai tumpuan kalimat. Dalam hal ini dapat diganti dengan
kata tentang, mengenai, atau adapun. Contoh:
·
Akan budi baikmu itu, tentu tak bisa kami lupakan.
·
Akan hutang-hutangmu itu tidak usahlah terlalu kau
pikirkan.
·
Akan sawah dan ladang di sana, biarlah diurus oleh
paman Hasan.
Catatan:
Sebagai penunjuk "maksud" atau "tujuan", kata depan akan
sebaiknya tidak digunakan. Kedudukannya lebih baik diganti dengan kata untuk.
Contoh:
·
Daunnya baik akan obat sakit perut. (sebaiknya diganti
dengan: Daunnya baik untuk obat sakit perut)
·
Latihan diadakan akan mempertinggi kemampuan.
(sebaiknya diganti dengan: Latuhan diadakan untuk mempertinggi kemampuan.
·
Disediakan uang akan biaya rapat itu. (sebaiknya
diganti dengan: Disediakan uang untuk rapat itu.
6. Kata Depan terhadap
Kata depan terhadap digunakan dengan aturan sebagai berikut:
1. Untuk menyatakan "sasaran perbuatan", digunakan di muka kata
benda yang menyatakan orang atau yang diorangkan. Kedudukannya dapat diganti
dengan kata depan kepada. Contoh;
·
Saya tidak takut terhadap siapa saja.
·
Terhadap saya dia tidak berani berbuat curang.
·
Terhadap ibunya dia berani berkata begitu, apalagi
kepada kita.
2. Untuk menyatak "perihal", digunakan dimuka kata benda.
Kedudukannya dapan diganti dengan kata depan kepada. Contoh;
·
Kami tidak ragu-ragu lagi terhadap kejujuranmu.
·
Kami akan menentukan sikap terhadap perbuatan itu.
·
Peristiwa itu merupakan batu ujian terhadap keteguhan
hatinya.
7.
Kata Depan oleh
Kata depan oleh digunakan dengan aturan
sebagai berikut.
1. Untuk menyatakan "pelaku perbuatan", digunakan di muka objek
pelaku dalam kalimat pasif. Contoh:
·
Pabrik pupuk itu akan diresmikan oleh Presiden SBY.
·
Buku pelajaran matematika itu diterbitkan oleh Balai
Pustaka.
·
Jembatan ini dibangun oleh pemerintah pusat.
2. Untuk menyatakan "sebab", digunakan dlam kalimat yang predikatnya
berupa kata sifat atau kata yang menyatakan keadaan. Contoh:
·
Pertahanan mereka hancur oleh serangan Israel.
·
Bajunya basah oleh keringat.
·
Tanaman kami rusak oleh hama wereng.
8.
Kata Depan dengan
Berikut ini aturan kata depan
dengan.
1. Untuk menyatakan "alat", digunakan di muka kata benda yang
menyatakan alat. Contoh;
·
Adik menulis dengan spidol.
·
Hasil ujian seleksi diperiksa dengan komputer.
·
Penjahat itu menodong saya dengan pistol.
2. Untuk menyatakan "beserta", digunakan di muka kata benda yang
menyatakan orang. Contoh:
·
Dia datang dengan ibunya.
·
Kapal itu tenggelam dengan segala isinya.
·
Adik pergi dengan kawan-kawannya.
3. Untuk menyatakan "cara atau sifat perbuatan", digunakan di muka
kata sifat atau kata keterangan. Contoh:
·
Kami diperiksa dengan teliti.
·
Mereka bermain dengan gembira.
·
Saudara akan kami terima dengan senang hati.
Catatan:
Kata depan dengan digunakan juga
dalam beberapa ungkapan tetap yang menyatakan sumpah atau alat, seperti
berikut; Dengan nama Alloh, Dengan rahmat Tuhan, Dengan karunia Yang Maha Esa,
Dengan titah baginda, Dengan restu presiden
9.
Kata Depan berkat
Kata depan berkat digunakan di
depan kata benda atau frase benda untuk menyatakan "sebab yang memberi
pengaruh untuk terjadinya sesuatu". Contoh:
·
Kemerdekaan ini dapat kita raih berkat pengorbanan
para pejuang.
·
Berkat doa saudara-saudara, kami berhasil membawa
kembali gelar juara ini.
·
Berkat bantuan Anda, saya terbebas dari kesulitan ini.
10.
Kata Depan tentang
Kata depan tentang digunakan di
depan kata benda atau frase benda untuk menyatakan "perihal" atau
"masalah". Contoh:
·
Mereka berdebat tentang peranan pemuda dalam
pembangunan.
·
Tentang perundingan itu sendiri tidak banyak
dibicarakan lagi.
·
Menlu Mochtar memberi keterangan penjang lebar tentang
peristiwa yang dialami Tim Verifikasi RI di Irian Jaya.
11.
Kata Depan sampai
Kata depan ini digunakan untuk menyatakan "batas tempat atau batas
waktu" digunakan di muka kata benda yang menyatakan tempat atau menyatakan
waktu. Contoh:
·
Kami berjalan kaki sampai desa Jatisari.
·
Bacalah sampai halaman 43!
·
Mereka belajar sampai larut malam.
12.
Kata Depan guna
Kata depan guna untuk menyatakan adanya pertalian perihal" sebagai
varian kata depan untuk, digunakan di muka kata benda berimbuhan gabung ke-an.
Contoh:
·
Guna kebahagiaan anak-anak itu, biarlah kita mengalah.
·
Guna kesehatan kita bersama, janganlah merokok di
ruangan ini.
·
Guna kepentingan umum kami rela berkorban.
Tetapi disini penggunaannya tidak dianjurkan. Lebih baik gunakan kata depan
gabung untuk.
13.
Kata Depan demi
1. Untuk menyatakan "tekad", digunakan di depan kata benda
berimbuhan gabung ke-an. Contoh:
·
Kami akan bekerja keras demi kesejahteraan keluarga.
·
Demi kepentingan pembangunan kami rela berkorban.
·
Saya berjuang demi kebenaran dan keadilan.
2. Untuk menyatakan "berurutannya yang satu dari yang lain"
digunakan di antara dua buah kata bilangan yang sama. Contoh:
·
Diangkatnya batu itu satu demi satu.
·
Seorang demi seorang, secara diam-diam meninggalkan
ruang sidang itu.
·
Kertas itu dibakarnya selembar demi selembar.
3. Untuk menyatakan sumpah, digunakan di depan nama Tuhan, Dewa, dan lain-lain
yang dianggap berkuasa. Contoh:
·
Demi Alloh saya tidak pernah mengambil bukumu.
·
Demi Tuhan saya tidak tahu menahu dengan urusan itu.
·
Demi yang menguasai alam dengan segenap isinya saya
bersumpah akan tetap tinggal disini.
14.
Kata Depan untuk
Kata depan untuk digunakan dengan aturan sebagai berikut:
·
Untuk menyatakan "tujuan" atau "sasaran
perbuatan", digunakan dimuka kata benda orang yang diorangkan. Contoh;
Beliau membawa oleh-oleh untuk kami; Pupuk dikirim untuk para petani; Ayah
membeli sepatu untuk ibu.
15.
Kata Depan bagi
Kata depan ini dapat digunakan untuk menyatakan "adanya pertalian
perihal", sebagai varian kata depan untuk. Contoh;
·
Bagi kepentingan pembangunan
kami rela berkorban.
·
Bagi saya jadi pergi atau tidak, tidak menjadi soal.
·
Bagi karangan terbaik disediakan hadiah menarik.
16.
Kata Depan menurut
Kata depan ini dengan fungsi
untuk menyatakan "sesuai dengan yang dikatakan", digunakan di depan
kata benda atau frase benda yang menyatakan orang. Contoh:
·
Menurut undang-undang yang berlaku, saudara telah
berbuat salah.
·
Menurut ketua organisasi itu siapa saja boleh
mendaftar jadi anggota.
·
Menurut ibu, saya sebaiknya menjadi pelukis saja.
Bentuk-bentuk
preposisi sebagai berikut :
1. Preposisi tunggal terdiri
dari satu kata.
1. Preposisi
yang berupa kata dasar terdiri dari satu morfem. Contoh: akan, antara, bagi.
2. Preposisi
yang berupa kata berafiks dibentuk dengan menambahkan afiks
(imbuhan) pada bentuk dasar yang bisa berupa verba, adjektiva,
atau nomina.
1. Preposisi
yang berupa kata berprefiks, contoh: bersama, menurut, seantero.
2. Preposisi
yang berupa kata bersufiks, contoh: bagaikan.
3. Preposisi
yang berupa kata berprefiks dan bersufiks, contoh: melalui, mengenai.
2. Preposisi gabungan atau majemuk terdiri
atas dua preposisi yang berdampingan atau berkolerasi.
1. Preposisi
yang berdampingan terdiri dari dua preposisi yang letaknya
berurutan. Contoh: daripada, kepada, sampai ke.
2. Preposisi
yang berkorelasi terdiri dari dua unsur yang dipakai
berpasangan, tetapi terpisah oleh kata atau frasa lain. Contoh: antara
... dengan, dari ... ke.
3. Preposisi
dengan nomina lokatif bergabung dengan dua nomina yang nomina
pertamanya mempunyai ciri lokatif atau menunjukkan lokasi. Contoh di
atas meja, ke dalam rumah, dari sekitar kampus.
3.
Konjungsi
Konjungsi,
konjungtor, atau kata sambung adalah kata atau ungkapan yang
menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan
frasa, klausa dengan klausa, serta kalimat dengan kalimat. Contoh: dan, atau,
serta.
Preposisi dan konjungsi adalah dua kelas yang memiliki anggota yang dapat
beririsan. Contoh irisannya adalah karena, sesudah, sejak,
sebelum.
Kata penghubung adalah kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan kata
dengan kata, klausa dengan klausa atau kalimat dengan kalimat. Umpamanya kata dan,
karena, dan ketika. Dilihat dari fungsinya, berikut ini dua macam
kata penghubung:
Kata penghubung
yang kedudukannya sederajat atau setara terdiri dari beberapa hal berikut:
·
Menggabungkan biasa; dan, dengan, serta.
·
Menggabungkan memilih: atau
·
Menggabungkan mempertentangkan: tetapi, namun,
sedangkan, sebaliknya
·
Menggabungkan membetulkan: melainkan, hanya
·
Menggabungkan menegaskan: bahkan, malah (malahan),
lagipula, apalagi, jangankan
·
Menggabungkan membatasi: kecuali, hanya
·
Menggabungkan mengurutkan: lalu, kemudian, selanjutnya
·
Menggabungkan menyamakan: yaitu, yakni, bahwa, adalah,
ialah
·
Menggabungkan menyimpulkan: jadi, karena itu, oleh
sebab itu
Kata penghubung yang menghubungkan
klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat dibedakan sebagai berikut:
·
Menyatakan sebab: sebab dan karena
·
Menyatakan syarat: kalau, jikalau, jika, bila,
apalagi, dan asal
·
Menyatakan tujuan: agar dan supaya
·
Menyatakan waktu: ketika, sewaktu, sebelum, sesudah,
tatkala.
·
Menyatakan akibat: sampai, hingga, dan sehingga
·
Menyatakan sasaran: untuk dan guna
·
Menyatakan perbandingan: seperti, sebagai, dan laksana
·
Menyatakan tempat: tempat
Jenis-jenis konjungsi yaitu :
1. Kata
Penghubung dan
Kata penghubung ini untuk menyatakan "gabungan biasa" digunakan
pada bagian berikut:
Diantara dua buah kata benda. Contoh:
·
Ibu dan ayah pergi ke Bogor
·
Ayah membeli rokok dan korek api
Di antara dua buah kata kerja. Contoh:
·
Mereka makan dan minum di kelas
·
Ibu mencuci dan menyetrika pakaian kami
Diantara dua buah kata sifat yang tidak bertentangan. Contoh;
·
Anak itu rajin dan pandai
·
Pohon durian itu besar dan tinggi
Di antara dua buah klausa (bagian kalimat) dalam sebuah kalimat
majemuk/luas. Contoh;
·
Saya mau piano dan adik menggesek biola
·
Ali belajar bahasa Inggris dan kakaknya belajar bahasa
Arab
Jikalau
klausa-klausa yang digabungkan itu lebih tinggi dari 2 buah, maka kata p enghubung dan hanya digunakn di antara dua
buah klausa yang terakhir. Contoh:
·
Gubernur menyumbang sepuluh juta rupiah, bupati
menyumbang lima juta rupiah, dan para pengusaha menyumbang enam juta rupiah.
2. Kata
Penghubung dengan
Kata
penghubung ini fungsinya untuk menyatakan "gabungan biasa", dapat
pula digunakan diantara dua buah kata benda. Contoh:
·
Ibu dengan ayah pergi ke Bogor
·
Dia dengan anaknya sudah datang
3. Kata
Penghubung serta
Kata
penghubung serta dengan fungsinya untuk menyatakan "gabungan biasa"
digunakan di antara dua buah kata benda. Contoh:
·
Kakak serta nenek akan datang
minggu depan
·
Uangmu serta uangku sebaiknya
kita satukan saja untuk modal usaha.
Catatan: Kata
penghubung dengan, serta, sebaiknya diganti/digunakan kata penghubung dan.
4. Kata
Penghubung atau
Kata
penghubung atau dengan fungsi untuk menyatakan "memilih" dapat
digunakan di antara bagian berikut.
a. Dua
buah kata benda atau frase benda Contoh:
·
Nama orang itu Adi atau Andi?
·
Sarjana teknik atau sarjana sastra
sama pentingnya dalam pembangunan.
b. Dua
buah kata kerja. Contoh:
·
Jangan menegur atau
mengajak bicara anak-anak nakal itu.
·
Dalam peperangan seperti itu tidak ada
pikiran lain, membunuh atau dibunuh.
c. Dua
buah kata sifat yang berlawanan maknanya. Contoh:
·
Kaya atau miskin dihadapan tuhan tidak ada bedanya
·
Mahal atau murah akan kubeli
rumah itu
d. Kata
kerja atau kata sifat dengan ingkarannya Contoh:
·
Kamu mau datang atau tidak, itu adalah
urusanmu
·
Jujur atau tidak jujur orang-orang itu
saja tidak tahu.
e. Dua
buah klausa dalam sebuah kalimat majemuk setara Contoh:
·
Saya yang datang kerumahnya, atau kau yang datang
kerumahku?
·
Sebaiknya kita berangkat
sekarang saja, atau kita tunggu dulu kedatangan beliau.
Catatan: Kalau
yang harus dipilih terdiri dari lebih dua unsur, maka kata penghubung atau
ditempatkan diantara kedua unsur yang terakhir.
Contoh:
·
Teh, kopi, atau air
putih yang hendak kau minum.
·
Nama anak itu Difa, Dika atau Dita?
5. Kata
Penghubung tetapi
Kata
hubung tetapi dengan fungsi untuk menyatakan "menggabungkan
pertentangan" digunakan di antara bagian berikut.
a. Dua
buah kata sifat yang berkontras di dalam sebuah kalimat. Contoh:
·
Anak itu cerdas tetapi malas
·
Dia memang bodoh tetapi rajin
b. Dua
buah klausa yang subjeknya merujuk pada identitas yang sama sedangkan
predikatnya adalah dua buah kata sifat yang berkontras. Contoh:
·
Rumah itu besar dan indah, tetapi halamannya
sempit
·
Anak itu memang bodoh, tetapi hatinya
jujur
c. Dua
buah klausa yang subjeknya merujuk pada pada identitas yang tidak sama dengan
predikatnya adalah dua buah kata sifat yang berlawanan. Contoh:
·
Ali sangat pandai
tetapi Sudin sangat bodoh
·
Di luar rumah sangat gelap sekali,
tetapi di dalam terang benderang
d. Dua
buah klausa yang klausa pertama berisi pertanyaan dan klausa kedua berisi
pengingkaran dengan kata tidak. Contoh:
·
Kami ingin melanjutkan
sekolah tetapi tidak ada biayanya
·
Saya memang hadir di sana
tetapi tidak melihat hal-hal yang mencurigakan
Catatan: Kata penghubung tetapi tidak dapat digunakan sebagai penghubung
antar kalimat
Contoh:
·
Saya ingin terus belajar. Tetapi ayah
menyuruh saya bekerja
(Seharusnya: Saya ingin terus belajar, tetapi ayah
menyuruh saya bekerja.)
·
Ibu mengizinkan saya pergi ke sana.
Tetapi ayah melarang
(Seharusnya: Ibu mengizinkan saya pergi, tetapi ayah
melarang)
6. Kata
Penghubung namun
Kata penghubung namun dengan fungsi "menggabungkan
mempertentangkan" digunakan di antara dua buah kalimat. Kalimat pertama
atau kalimat sebelunya berisi penyatuan dan kalimat kedua berisi pernyataan yang kontras dengan kalimat pertama. Contoh:
·
Sejak kecil dia kami asuh, kami didik,
dan kami sekolahkan. Namun, setelah dewasa menjadi orang besar dia lupa kepada
kami.
·
Sehabis lebaran banyak kantor masih
sepi. Pegawai-pegawai cuma duduk-duduk, mengobrol, atau baca koran. Namun,
mereka tetap berada di tempat sampai jam kantor.
Catatan:
Kata penghubung namun
sesungguhnya sama fungsinya dengan kata penghubung tetapi. Namun, kata
penghubung tetapi hanya digunakan sebagai penghubung antar klausa, sedangkan
kata penghubung namun digunakan sebagai penghubung antar kalimat. Perhatikan
contoh-contoh diatas.
Kata penghubung namun untuk lebih menegaskan, dapat diikuti kata begitu dan
demikian.
Contoh:
·
Sejak kecil dia kami asuh, kami didik,
dan kami sekolahkan. Namun begitu, setelah dewasa menjadi orang besar dia lupa
kepada kami.
·
Dia memang bandel, keras kepala, dan
suka membantah. Namun demikian, hatinya baik dan suka menolong.
7. Kata
Penghubung sedangkan
Kata penghubung ini dengan fungsi untuk "menggabungkan
mempertentangkan atau mengkontraskan" digunakan di antara dua buah klausa.
Contohnya:
·
Ayah menjadi dokter di puskesmas,
sedangkan ibunya menjadi bidan.
·
Kami bekerja keras memperbaiki tanggul
yang jebol itu, sedangkan mereka berdua duduk-duduk saja berpangku tangan.
8. Kata
penghubung sebaliknya
Kata penghubung sebaliknya dengan fungsi untuk menyatakan
"menggabungkan mempertentangkan dengan tegas" dapat digunakan di
antara dua buah klausa atau di antara dua buah kalimat. Contoh:
·
Di hadapan kita dia memang ramah.
Sebaliknya, jauh dari kita sombongnya bukan main.
·
Muara sungai itu lebar dan dangkal.
Sebaliknya, di bagian hulu sungai itu sempit dan dalam.
9.
Kata Penghubung malah dan malahan
Kata penghubung malah dan malahan
dengan fungsi untuk "menguatkan mempertentangkan" digunakan di antara
dua buah klausa tentang amanat keduanya bertentangan.
Contoh:
·
Diberi pertolongan bukannya mengucapkan
terima kasih, malah ia memburuk-burukkan nama kita
10.
Kata Penghubung bahkan
Kata penghubung
bahkan dengan fungsi "menggabungkan menguatkan" dapat digunakan di
antara dua buah kalimat. Contohnya:
·
Anak itu memang nakal. Bahkan ibunya
sendiri pernah ditipunya.
·
Dia pandai sekali memegang rahasia.
Bahkan kita sendiri tidak tahu.
11. Kata
Penghubung lagipula
Contohnya: 1) Saya tidak hadir karena sakit.
Lagipula saya tidak diundang. 2). Mari kita makan di restoran ini saja,
masakannya enak, harganya murah, lagipula pelayanannya memuaskan.
12. Kata
Penghubung apalagi
Kata penghubung apalagi dengan fungsi untuk
menyatakan "menggabungkan menguatkan" digunakan pada awal keterangan
tambahan atau kalimat tambahan. Contoh:
·
Kamu saja yang lulusan SMA tidak tahu,
apalagi saya yang cuma tamatan SD
·
Jalan-jalan di ibu kota seringkali
macet. Apalagi pada jam-jam sibuk.
Catatan:
a.
Secara optimal
kata penghubung apalagi dapat diikuti kata kalau atau jika, bila digunakan pada
kalimat yang tidak bersubjek.
Contoh: Hawa disini sejuk sekali, Apalagi kalau malam hari. Saya tidak
dapat hadir. Apalagi jika tidak dijemput.
13. Kata
Penghubung itupun
Kata penghubung itupun dengan fungsi
"menggabungkan menguatkan" dapat digunakan diantara dua buah kalimat
yang amanatnya sejalan. Kalimat pertama biasanya diawali dengan kata penghubung
hanya. Contoh:
·
Hanya lima orang yang hadir dalam rapat
itu. Itupun dua orang diantara mereka sudah akan meninggalkan rapat sebelum
selesai.
·
Hanya seribu rupiah yang akan dapat
kuberikan. Itupun sebenarnya lembaran uangku stu-satunya yang terakhir.
14. Kata
Penghubung jangankan
Kata penghubung jangankan dengan fungsi
"menguatkan mempertentangkan" digunakan pada bagian berikut. a. Di
depan klausa pertama pada sebuah kalimat majemuk setara sedangkan pada klausa
kedua biasanya disertakan partikel pun. Contohnya:
·
Jangankan berjalan, berdiri pun aku tak
sanggup
·
Jangankan seribu, seripiah pun tak punya
15. Kata
Penghubung melainkan
Kata penghubung ini dengan fungsi untuk menyatakan
"koreksi atau pembetulan" digunakan diantara dua buah klausa. Klausa
pertama biasanya disertai dengan kata ingkar bukan, yang diletakan di muka
unsur kalimat yang akan dikoreksi. Contoh:
·
Kami bukan mengejek, melainkan
mengatakan apa adanya
16. Kata
Penghubung hanya
Kata
penghubung hanya digunakan dengan aturan sebagai berikut:
a. Untuk
menyatakan "menggabungkan-mengecualikan" digunakan diantara dua buah
klausa. Contohnya:
·
Semua orang setuju, hanya dia yang tidak
setuju
·
Kami semua sudah siap untuk
bertransmigrasi, hanya dia yang masih ragu-ragu
b.
Untuk
menyatakan "menggabungkan mengoreksi" digunakan di antara dua buah
klausa. Klausa pertama berisi pertanyaan positif, dan klausa kedua berisi
pertanyaan yang mengurangi kepositifan klausa pertama.
Perilaku
Sintaksis pada konjungsi sebagai berikut :
- Konjungsi koordinatif; menghubungkan dua atau lebih unsur (termasuk kalimat) yang sama pentingnya atau setara. Kalimat yang dibentuk disebut kalimat majemuk setara. Contoh: dan, serta, atau, tetapi, melainkan, padahal, sedangkan.
- Konjungsi korelatif; menghubungkan dua atau lebih unsur (tidak termasuk kalimat) yang memiliki status sintaksis yang sama dan membentuk frasa atau kalimat. Kalimat yang dibentuk agak rumit dan bervariasi, kadang setara, bertingkat, atau bisa juga kalimat dengan dua subjek dan satu predikat. Contoh: baik ... maupun, tidak hanya ..., tetapi juga, bukan hanya ..., melainkan juga, demikian ... sehingga, sedemikian rupa ... sehingga, apa(kah) ... atau, entah ... entah, jangankan ..., ... pun.
- Konjungsi subordinatif; menghubungkan dua atau lebih klausa yang tidak memiliki status sintaksis yang sama. Konjungsi membentuk anak kalimat yang jika digabungkan dengan induk kalimat akan membentuk kalimat majemuk bertingkat.
- Konjungsi subordinatif waktu; sejak
- Konjungsi subordinatif syarat; jika
- Konjungsi subordinatif pengadaian; andaikan
- Konjungsi subordinatif tujuan; agar
- Konjungsi subordinatif konsesif; biarpun
- Konjungsi subordinatif pembandingan; ibarat
- Konjungsi subordinatif sebab; karena
- Konjungsi subordinatif hasil; sehingga
- Konjungsi subordinatif alat; dengan
- Konjungsi subordinatif cara; tanpa
- Konjungsi subordinatif komplementasi; bahwa
- Konjungsi subordinatif atributif; yang
- Konjungsi subordinatif perbandingan; sama ... dengan
- Konjungsi antarkalimat; merangkaikan dua kalimat, tetapi masing-masing merupakan kalimat sendiri.
4.
Interjeksi
Interjeksi atau kata seru adalah partikel yang
mengungkapkan rasa hati pembicara. Interjeksi biasanya dipakai di awal kalimat
dan pada penulisannya diikuti oleh tanda koma (,). Secara struktural interjeksi
tidak bertalian dengan unsur kalimat lain. Interjeksi umumnya berupa bentuk
dasar, meskipun ada juga yang berbentuk turunan.
Banyak interjeksi yang digunakan dalam bahasa lisan atau bahasa tulis yang
berbentuk percakapan. Karena itu, umumnya interjeksi macam itu lebih bersifat
tidak formal. Pada bahasa tulis yang tidak merupakan percakapan, khususnya yang
bersifat formal, interjeksi jarang dipakai.
JENIS -jenis INTERJEKSI yaitu :
1.
Interjeksi kejijikan: bah
2.
Interjeksi kekesalan: huh, brengsek
3.
Interjeksi kekaguman atau kepuasan: aduhai
4.
Interjeksi kesyukuran: syukur
5.
Interjeksi harapan: insya Allah
6.
Interjeksi keheranan: aduh
7.
Interjeksi kekagetan: astaga
8.
Interjeksi ajakan: ayo
9.
Interjeksi panggilan: hai
10. Interjeksi simpulan:
nah
5.
Artikel
Artikel,
artikula, atau kata sandang adalah partikel yang membatasi makna
nomina.
Jenis-jenis artikel yaitu :
Dalam bahasa Indonesia, ada tiga
kelompok artikel.
1. Artikel yang
bersifat gelar: sang, sri, hang, dang.
2. Artikel yang
mengacu ke makna kelompok: para, kaum, umat.
3. Artikel yang
menominalkan: si. Pemakaiannya untuk:
1.
Di depan nama diri pada ragam akrab atau kurang
hormat: si Ali, si Toni;
2.
Di depan kata untuk mengkhususkan orang yang melakukan
sesuatu atau terkena sesuatu: si pengirim, si alamat, si
terdakwa;
3.
Di depan nomina untuk dipakai sebagai timangan,
panggilan, atau ejekan: si belang, si bungsu;
4.
Dalam bentuk verba yang menandakan dirinya menjadi
bersifat tertentu: bersitegang, bersikukuh;
5.
Pada berbagai nama tumbuhan dan binatang: siangit,
sibusuk, simalakama.
6.
Penegas
Partikel penegas meliputi kata
yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan
unsur yang diiringinya. Dalam bahasa Indonesia, ada empat partikel penegas,
yaitu -kah, -lah, -tah, dan pun. Tiga yang pertama
adalah klitik sedangkan yang keempat tidak.
Jenis-jenis penegasan yaitu :
1. -kah
Dipakai
dalam kalimat interogatif dan berfungsi menegaskan.
·
Mengubah kalimat deklaratif menjadi
kalimat interogatif: Diakah yang akan datang?
·
Bersifat manasuka dalam kalimat
interogatif yang telah memiliki kata tanya seperti apa, di mana,
dan bagaimana: Apakah ayahmu sudah datang?
·
Memperjelas kalimat interogatif yang
tidak memiliki kata tanya: Akan datangkah dia nanti malam?
2. -lah
Dipakai
dalam kalimat imperatif atau deklaratif.
·
Menghaluskan sedikit nada perintah
kalimat imperatif: Pergilah sekarang, sebelum hujan turun!
·
Memberikan ketegasan yang lebih keras
dalam kalimat deklaratif: Dari ceritamu, jelaslah kamu yang salah.
3. -tah
Dipakai
dalam kalimat interogatif. Bersifat retoris: penanya tidak berharap mendapat
jawaban dan seolah hanya bertanya pada diri sendiri. Partikel -tah banyak
digunakan dalam sastra lama tapi kini tak banyak dipakai lagi.
Contoh:
Apatah artinya hidup ini tanpa engkau?
4. pun
Dipakai
dalam kalimat deklaratif.
·
Mengeraskan arti kata yang diiringinya: Mereka
pun akhirnya setuju dengan usul kami.
·
Menandakan perbuatan atau proses mulai
berlaku atau terjadi jika dipakai bersama -lah: Tidak lama kemudian
hujan pun turunlah dengan derasnya.
G. Penulisan Angka dan Lambang
Bilangan
Cara penulisan angka dan
lambang yang benar ikut menentukan proses penulisan artikel yang bagus. Penulisan angka dan lambang yang benar, tak cuma memperjelas
makna yang ingin disampaikan oleh artikel tersebut. Tapi juga menunjukkan
profesionalisme anda dalam menyajikan sebuah informasi.
Ragam
artikel ada beberapa, seperti artikel ilmiah, artikel
populer, artikel jurnalistik dan lainnya. Nah, ragam artikel ilmiah
termasuk yang banyak menggunakan angka dan lambang. Sebagai penulis artikel yang bagus, sudah
selayaknya anda pun menyimak cara penggunaan angka dan lambang berikut;
1. Angka digunakan sebagai lambang bilangan atau
penomoran, baik dalam angka Arab (0,1, 2, 3, 4, dan seterusnya) maupun angka
Romawi (I, II, III, IV, V, dan seterusnya)
2. Angka juga dipakai untuk menyatakan ukuran
panjang, luas, berat, isi dan waktu, kuantitas dan nilai uang. Contohnya; 1
meter, 5 kilogram, 10 hekter, 10 kubik, pukul 05.00, 15 kali dan Rp 100.000
3.
Angka juga biasa dipakai untuk nomor rumah, jalan dan kamar hotel.
Misalnya Rumah no 5, kamar nomor 503 dan
seterusnya.
4.
Angka juga dipakai untuk menomori majalah atau buku dan ayat suci.
Misalnya; halangan 11 dan Surat Al Baqarah 5
Itu tadi
adalah lima poin soal penulisan angka dalam artikel.
Berikutnya, cara penulisan lambang bilangan dalam artikel.
Penulisan lambang bilangan dengan
huruf bisa untuk bilangan utuh dan pecahan. Contohnya;
1.
Bilangan utuh
-
1 (satu)
-
3 (tiga)
-
12 (dua belas)-
-
131 (seratus tiga puluh satu)
2. Bilangan pecahan
- ¼
(seperempat)
- ½
(setengah)
- ¾
(tiga perempat)
- 3 ½
(tiga setengah)
3. Penulisan bilangan tingkat.
Contohnya;
- Hamengkubuwono X
- Awal abad XXI
- Cicilan ke-17
4.
Lambang bilangan yang mendapat akhiran –an, berikut cara penulisannya
dalam artikel;
-
Tahun ’50-an
- Uang 10.000-an
- Empat uang 500-a
- Uang 10.000-an
- Empat uang 500-a
5. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu
atau dua kata, ditulis dengan huruf. Kecuali jika beberapa lambang bilangan
dipakai beruntun.
-
Adik membeli dua ratus ekor benih lele.
6. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan
huruf. Jika perlu susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat
ditulis dengan satu atau dua kata tidak terdapat di awal kalimat.
-
Lima rumah hanyut terbawa banjir.
- Banjir menggenangi 5.100 rumah.
- Banjir menggenangi 5.100 rumah.
7.
Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks
kecuali dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar